16 Jan 2016

Tentang Kita

Oleh: Hasna Nadhifah.



Malam ini terasa sunyi hanya hembusan angin, dan dinginnya udara malam yang menusuk tubuh yang menemaniku malam ini. Aku duduk diatas kasur sambil memandang sebuah bingkai foto yang berisi fotoku, kekasihku, dan sahabatku, hatiku rasanya sangat sakit bila harus mengingat kejadian diantara kami sedikitpun aku tidak pernah terbayangkan akan mengalami hal seperti ini, sosok sahabat yang sangat aku sayangi tega-teganya mengkhianatiku, juga kekasihku yang sangat aku cintai merusak persahabatan aku dan sahabatku sebut saja Rachel, aku dan Rachel sudah berteman sejak lama rachel sudah seperti saudara bagiku namun kenyataanya dia malah mengkhianati persahabat yang sudah kita jalani sejak lama. Tidak ingin aku mengingat hal ini lagi aku melempar bingkai foto itu lalu aku terbaring sambil menarik selimut.
Namaku Raya aku seorang gadis yang mempunyai pendirian tinggi dan satu hal aku tidak percaya dengan persahabatan dan percintaan dual hal itu yang paling aku benci didunia ini dua hal terkejam yang bisa menghancurkan diri kita semua, aku sangat menghindari dua hal itu sampai sekarang aku tidak pernah mau untuk mengenal seseorang dengan sangat dekat semua orang yang aku kenal hanya aku jadikan seperi figuran dalam film. Pagi ini aku mulai mengerjakan aktivasku seperti bisa pergi ke kampus dan setelah itu... ”ibu raya berangkat ke kampus, sampai jumpa bu”.  Aku bukan tipe gadis yang manja yang hanya mengandalkan harta kekayaan orang tua setiap hari aku pergi ke kampus menggunakan bis kota biarpun kotor dan bau tapi aku sangat menikmati suasananya. “stop disini bang!” aku turun dari bis kota lalu berjalan ke kampus, aku berjalan sambil menenteng tas yang aku simpan di bahu sebelah kanan dan memegang buku, aku terus berjalan hingga sampai di loker tempat biasa aku menyimpan keperluanku selama dikampus aku membuka loker lalu aku mengambil segulung kertas karton putih yang berisi materi persentasiku hari ini, aku menutup kembali loker ku dan..... “Daaaarrrrr!” teriak seseorang yang tiba-tiba muncul disamping pintu lokerku, aku terkejut dan dengan spontan aku menjatuhkan semua barang yang aku pegang “maaf!maafkan aku ray, aku bantu ya!” seru seseorang tadi sebut saja Dama ia adalah teman kampusku kami satu fakultas dan dia sangat baik tapi aku tetap tidak mau menganggap kebaikan dia berlebihan. “dama, kamu bikin aku kaget” ucapku sambil membereskan barang-barang yang terjatuh dilantai dama pu membantuku “maaf ya aku hanya bercanda.” Ucap dama sambil membereskan barang-barangku “makasih ya bantuanya aku pergi dulu!” seruku lalu tersenyum, aku pergi berjalan meninggalkan dama “kamu tidak pernah berubah raya tetap jutek dan datar.” Ucap dama didalam hati. Dama diam diam menyukai aku, walaupun dama tahu bahwa sampai kapan pun aku tidak pernah membuka hati untuk siapapun termasuk dama, tapi mungkin dama yakin bahwa suatu hari nanti hati diriku akan terbuka untuk dama.
Aku sudah duduk didalam kelas menunggu giliran untuk persentasi, aku melihat dama masuk keruangan kelas dia berjalan menuju kearahku lalu duduk disampingku “bolehkan aku duduk disini?” tanya dama dengan nada pelan “silahkan!” jawabku dengan ekspresi wajah datar. Dama hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum miris. Persentasi telah dimulai satu persatu setiap mahasiswa dipanggil, dan kini giliranku maju kedepan untuk persentasi. Selama aku menjelaskan didepan dama terus memperhatikanku tapi aku tidak peduli dengan perhatianya, sampai akhirnya persentasi selesai semua orang memberikan terpuk tangan padaku, aku berjalan dan duduk kembali di kursiku “persentasimu bagus ray singkat, padat, jelas, dan satu lagi menarik” puji dama padaku “iya terima kasih!” jawabku dengan sedikit senyuman, dama pun tersenyum miris ia lalu menundukan kepalanya lalu mengangkat menunduk lagi dan mengangkat lagi terus saja begitu, aku melihat dama tapi aku tidak ingin menanyakan padanya aku tetap tidak peduli dengan tingkah dama. Persentasi pun selesai, aku bersiap-siap meninggalkan ruangan kelas setelah itu aku berjalan menuju lokerku lalu menyimpan semua peralatan saat persentasi tadi, setelah itu aku pergi menuju perpustakaan “raya, tunggu!” teriak dama sambil berlari menuju kearahku “kamu mau kemana?” tanya dama “keperpustakaan” jawabku seperti biasa dengan nada dan wajah datar “aku ikut ya sekalian aku mau cari buku statistik, boleh ya?” ucap dama “tentu saja!” jawabku “yes!! Makasih ray” seru dama dengan gembira, aku hanya menjawab dengan anggukan kepala dan kembali berjalan menuju perpustakaan dama berjalan disampingku raut wajahnya terlihat sangat senang tapi aku tetap tidak ingin peduli dengan hal itu. Sesampainya diperpustakaan aku mencari buku, setelah sekian lama aku mencari ternyata tidak ada buku yang cocok denganku aku pun keluar dari perpustakaan “raya mau kemana? Tunggu aku!” teriak dama lalu berlari ke arahku “aku mau pulang” jawabku datar “kalau begitu aku antar kamu pulang ya mau kan? Mau ya please raya aku mohon sekali ini saja!” ajak dama sambil memohon-mohon dihadapanku “makasih, tapi aku masih bisa pulang sendiri” jawabku “aku mohon raya izin kan aku mengantarmu pulang sampai kerumah dengan selamat, aku mohon!” ucap dama, dia berlutut dihadapanku dan banyak orang lain yang lewat melihat aku merasa malu dan menarik dama untuk berdiri “dama bangun jangan begini, aku malu” ucapku sambil mengangkat dama untuk tidak berlutut dihadapanku “tapi aku mohon izinkan aku mengantarmu pulang, lagian cuaca mendung pasti sebentar lagi hujan” seru dama, tiba-tiba hujan turun “tuh kan hujan” ucap dama kembal, aku berfikir ulang untuk menerima tawaran dama “yasudah aku mau. Cepat bangun jangan berlutut malu dilihat orang lan” jawabku lalu membangunkan dama “benar? Yesss! Mari aku antar ke parkiran” seru dama dengan sangat gembira, aku terpaksa menerima tawaran dama karena hujan turun dan aku tidak membawa payung. Aku masuk kedalam mobil begitu juga dama, selama didalam mobil aku dan dama hanya terdiam hinggal sampai didepan rumahku dama keluar membawa payung lalu membuka pintu mobilku, dama mengantarku sampai depan pintu rumahku “makasih, sudah antar aku pulang sampai rumah” ucapku tersenyum “sama-sama raya aku senang akhirnya kamu mau menerima tawaranku setelah sekian lama aku meminta” ucap dama, aku hanya menjawabnya dengan senyuman “aku masuk kedalam dulu ya, sampai nanti!” ucapku “tunggu ray!” sahut dama, aku pu menoleh kearah dama “kita bisa jadi teman kan?” tanya dama dengan nada pelan, aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu sejenak aku terdiam dan aku tidak menjawab pertanyaan dama aku berjalan cepat masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu, dama hanya terdiam didepan pintu sambil memegang payung “aku pulang, sampai nanti raya” teriak dama lalu pergi. Aku terdiam dibalik pintu aku tidak ingin mendengar kata “teman” didalam hidupku karena aku tahu hal itu pasti akan membuat diriku terluka dan akan menghancurkan hidupku seperti saat ini air mata turun di pipiku hatiku sangat sakit bila harus mengingat tentang hal itu, rachel sahabatku dengan tega merebut kekasihku niko, dulu aku dan niko menjalin kasih selama 7 tahun dan selama itu aku tidak pernah merasa bosan, niko selalu membuatku bahagia dia tidak pernah membuat aku marah, kesal bahkan menangis inilah yang membuat aku sangat mencintai niko, tetapi semua itu ternyata merugikanku setelah aku menengetahui bahwa selama 7 tahun pula niko dan rachel menjalin kasih, setelah niko menyatakan cintanya padaku disaat itu pula niko menyatakan cinta pada rachel sahabatku sendiri aku baru mengetahui hal itu setelah hubungan aku dan niko berjalan selama ini, sedikitpun aku tidak menyangka rachel akan mengkhianati persahabatan ini, niko lelaki yang aku kenal dia orang yang sangat baik ternyata dibalik semua itu dia ternyata lebih kejam dari makhluk mana pun dia sudah merusak perasaanku, persahabatanku juga masa depanku, dulu aku mengandung anak niko tapi karena mental dan fisikku yang terganggung kandunganku mengalami keguguran, niko berjanji dia akan menikahiku kami berdua sudah menyiapkan baju pengantin dan segala keperluan pernikahan tapi tuhan berkata lain akhirnya sebelum pernikahan terjadi semua kebusukan niko terbongkar hingga akhirnya pernikahan kami berdua gagal dan bayi kami pun keguguran ini semua membuatku sangat stress sampai saat ini. Sekarang aku tidak tahu dimana rachel dan dimana niko kami tidak pernah bertemu selama 2 tahun terakhir yang aku tahu rachel bekerja sebagai cleaning service di cafe langgananku dan setelah itu aku tidak pernah datang ke cafe itu, persahabatan dan percintaan hanya membuat luka bagiku. Aku mengusap air mata lalu aku berdiri dan membuka pintu namun dama sudah tidak ada diluar mungkin dia sudah pergi, aku menutup pintu kembali lalu berjalan manuju kamar.
Keesokan harinya dikampus aku sedang duduk sambil makan es krim, tiba-tiba dama datang dan duduk didepanku “hai raya” sapa dama dengan tersenyum, aku hanya menganggukan kepala “raya aku minta maaf atas perkataanku kemarin, aku terlalu gembira hingga aku berkata kelewat batas maafkan aku raya!” ujar niko dengan gugup “tidak masalah” aku menjawabnya lalu pergi sambil membawa es krim yang sedang ku makan aku berjalan meninggalkan dama di kursi ku tadi. “raya aku tidak akan pernah menyerah!” ucap dama di dalam hati sambil melihat raya berjalan pergi meninggalkanya. Dalam hati aku merasa aku sangat bersalah pada dama, tapi aku tetap tidak mau melebih-lebih kan kebaikan orang lain cukup itu sebagai figuran dalam kehidupanku. Karena tidak ada lagi kegiatan dikampus aku memutuskan untuk pergi ke cafe sekarang kemana pun aku pergi aku membawa kendaraan mobil, aku pergi menuju cafe di pusat kota, aku masuk lalu duduk dikursi dekat kaca depan yang lebar sehingg aku bisa melihat suasana diluar bangunan cafe, aku memesan secangkir cappucino dan onion ring, aku mengeluarkan leptopku disini aku sambil mengerjakan tugas kuliah aku mengetik dan akhirnya makanan yang aku pesan datang dan disimpan disamping leptopku aku melihat kearah kaca sambil terdiam aku terpikir soal dama dia pasti sangat sakit hati oleh perlakuanku tadi aku menggelengkan kepala dan aku tidak mau berpikir soal dama, dan aku pun kembali mengerjakan tugasku. Setelah berjam-jam aku berada di cafe sampai tugasku selesai dikerjakan aku membereskan leptopku lalu membayar makanan yang tadi aku pesan setelah itu aku pergi keluar saat aku berjalan keluar aku seperti melihat dama sedang duduk dipojok kursi cafe aku mendekat dan ternyata itu memang dama dia terlihat sangat murung dan melamun dia hanya memutar setotan air minum yang ada dihadapanya aku ingin menghampiri dama tapi aku tidak mau aku tidak boleh melakukan hal itu aku cepat-cepat berlari keluar menghindari dama dan tak sengaja aku menabrak seseorang BRAAKK! Aku terjatuh “aduh mba maafkan saya, mba tidak apa-apa?” ucap seseorang yang terdengar suaranya seperti seorang pria saat aku mengangkat kepalaku keatas ternyata itu niko, niko terlihat sangat kaget begitu pun aku berdiri “kamu!!!” teriak aku dengan nada kesal “raya, i..tu be..nar kamu?” ucap niko dengan wajah kaget dan nada gugup “gak usah tau siapa aku minggir kamu!!” teriak ku dengan nada kesal aku berjalan lalu mendorong niko saat aku berjalan ternyata didepanku ada seorang wanita dan itu ternyata rachel dia terlihat sedang memegang perutnya yang membesar “raya” seru rachel yang memegang tanganku, aku terdiam rasanya aku ingin menangis dan air mata mulai terjatuh aku melepaskan tangan rachel yang memegang tanganku aku mengusap air mata lalu berlari, sepertinya dama mendengar teriakanku dia berdiri lalu berjalan ke arah ku, niko berlari kearahku dia menarik tanganku “raya aku mohon dengarkan aku sekali saja” ucap niko “gak ada lagi yang harus dijelasin aku tidak mau mencampuri kehidupan kalian berdua yang sangat bahagia aku sudah cukup sakit dengan semua ini, permis!!” jawabku sambil melepaskan tangan niko, dan dama meliha kearahku aku pu melihat kearah dama aku tak hiraukan mereka aku berlari ke mobil lalu pergi, sepanjang jalan aku menangis dengan kencang aku teriak sambil memukul stir mobil, hatiku masih belum sanggup untuk melihat wajah niko dan rachel setiap aku melihatnya rasa sakit sangat terasa sampai air mata terjatuh, aku berhenti di jembatan dan aku berjalan keluar aku ingin mengakhiri hidupku ini aku tidak sanggup menerima kenyataan hidup ini yang menyakitkan dan sangat menyiksa ku aku berdiri diatas besi pembatas jembatan dengan tangan terlentang aku menutup mataku dan..... Aku terbangun dengan pandangan buram aku perlahan membuka mata lalu mengedip ternyata aku berada di suatu ruangan saat beranjak ternyata aku berada dirumah sakit ditangan kananku terpasang jarum infus aku menoleh ke kiri dan kekanan aku melihat seorang pria tertidur disofa dan ternyata itu dama aku langsung loncat dari kasur lalu menghampiri dama dan membangunkanya “dama bangun..dama bangun” ucapku sambil menepuk pipi dama, dama membuka mata “raya aku sudah sadar?” ucap dama kaget “aku kenapa dama, kenapa aku bisa ada disini?” tanyaku dengan wajah cemas “kamu kemarin hampir mau lompat dari jembatan aku tarik dan kamu pingsan maka dari itu aku langsung membawamu kesini, kamu sekarang sudah tidak apa-apa?” jawab dama sambil memegang bahuku, aku terharu atas perhatian dama dia begitu cepat ada disampingku padahal selama ini aku selalu cuek tapi dama tetap selalu ada untukku, dengan tidak sadar aku memeluk dama dengan erat sambil menangis “dama terima kasih” ucapku menangis “sama-sama ray, sudah jangan menangis” ucap dama sambil mengelus kepalaku, aku melepaskan pelukkan “aku mau jadi temanmu” seruku yang mencoba untuk tersenyum lalu menagis kembali dan memeluk dama “serius ray? Terima kasih ray, aku sangat senang!” ucap dama gembira. Kini aku mulai menerima dama sebagai temanmu atas ketulusanya mempertahankanku.
Semenjak saat itu aku dan dama menjalin pertemanan tapi dengan batasan-batasan dama memang temanku tapi aku tetap datar tapi tidak terlalu cuek seperti sebelumnya, ketika aku berbincang dengan dama aku mulai menggunkan intonasi yang lembut disertai dengan senyuman tipis, dama masih tetap bersikap seperti sebelumnya dia tidak pernah menyerah untuk bisa membuatku tersenyum meski pun aku tetap datar. Diruang kelas dama selalu duduk disampingku, kemana pun aku pergi saat dikampus dama selalu mengikutiku dia tidak pernah meninggalkanku sendiri saat ke toiletpun dia menemaniku ya tentu saja dia harus menunggu diluar saat pulang kerumah dama mengikuti mobilku dari belakang sampai aku tiba didepan rumah dari situ malam harinya dama menelponku hampir setiap hari tetapi tetap saja aku masih dengan ekspresi datar setiap kali aku berbicara dengan dia, setiap hari selalu seperti ini dama selalu ada disampingku kemana pun aku pergi aku jadi mulai sering pergi keluar bermain bersama dama weekend aku habiskan waktuku bermain dengan dama,hingga aku bisa tertawa gembira saat bermain dengannya, kini dama menjadi temanku.
“raya, cepat kesini ini ada surat dari temanmu!” teriak ibuku dari bawah aku sedang berada di lantai atas rumahku “iya ibu ada apa?” jawabku “ini ada surat sepertinya dari teman kamu”. Aku membuka amplop surat itu lalu aku mebuka isi surat “selamat pagi putri jutek datar semangat belajar menuju uas tetap semangat dan ingat satu hal, tetap tersenyum walau hati sedih salam dama” aku membacakan isi surat itu dan itu ternyata dari dama aku tersenyum membaca surat itu dama memang selalu bisa membuatku tersenyum, aku pergi ke kamarku kembali lalu aku menelpon dama “hai makasih suratnya” (berbincang di telepon) “hai raya, ternyata sudah baca suratnya” (berbincang di telepon) “iya aku sudah baca” (berbincang di telepon) “semangat raya kamu pasti bisa” (berbincang di telepon) “iya terima kasih, sudah dulu sampai nanti” aku menutup telepon, aku tersenyum sepertinya aku mulai senang, aku pu kembali membaca buku pelajaran. Uas hari pertama dimulai dama  mengirim pesan pada ku TETAP TERSENYUMJ aku tidak membalas pesan dama, sesampainya dikampus dama menyapaku dan aku hanya menjawabnya dengan senyuman, uas dimulai setiap hari selama uas dama selalu mengirimku pesan yang isinya TETAP TERSENYUMJ aku senang atas perhatian dama pada aku tetapi aku tetap tidak ingin melebih-lebihkan kebaikan orang lain padaku.
Uas telah selesai, dan hasilnya sudah dibagikan kini saatnya aku libur semester aku dan keluargaku memutuskan untuk pergi keluar negeri kami semua pergi ke amsterdam belanda disana ayahku akan mengurus mengenai masalah sekolahku. Satu bulan aku berada di belanda dan selama itu aku tidak berkomunikasi dengan dama, semakin kesini rasa sakitku yang dulu perlahan mulai sirna meskipun belum sepenuhnya, aku masih merasakan sakit hati setiap kali aku mengingat wajah niko dan rachel mendengar nama mereka saja aku sudah sakit apalagi aku membayangkan wajahnya, ibu dan ayahku tidak pernah menanyakan mengenai masalah diantara kami orang tuaku kecewa saat pernikahan aku dan niko dibatalkan dan mereka tidak tahu alasan aku membatalkan pernikahanku, cincin pertungan aku dan niko masih aku simpan cincin itu aku simpan di box yang berisi semua foto-foto aku, niko, dan rachel. Aku masih belum menerima kenyataan ini padahal sudah hampir 2 tahun masalah ini berlalu tapi luka yang aku alami masih berbekas, apalagi setelah aku tahu bahwa rachel telah hamil menurutku mereka sudah menikah semakin sakit rasanya bila meningat hal itu air mataku turun aku menghapusnya dan kembali tersenyum tapi aku tidak dapat menahan air mata dan rasa sakit ini aku tak kuasa menahan air mata aku menangis. “raya kita makan malam, nak” ajak ibuku, aku menghapus air mata ku “baik bu” jawabku, dimeja makan tersedia banyak hidangan makan eropa aku mengambil makan yang tersedia aku makan dengan pelan dan dengan wajah yang terlihat seperti habis menangis, ayah dan ibu heran dengan ku “raya kamu baik-baik saja kan?” tanya ibu khawatir “iya bu!” jawabku kaget “kamu engga sakit kan?” tanya kembali ayah “aku sehat yah, bu” jawabku dengan senyuman kecil “syukur kalau begitu ayah takut kamu sakit” ucap ayah, aku membalasnya dengan senyuman.Setelah satu bulan kami berlibur dibelanda saat nya kami pulang kembali ke indonesia rasanya sangat senang bisa kembali ke indonesia aku pergi ke airport berjalan sambil menarik koper wajahku terlihat sangat senang ayah merangkulku sambil tersenyum dan aku membalas senyuman ayah, kami semua masuk kedalam pesawat. Hampir selama 14jam aku berada di pesawat hingga tiba di indonesia dengan selamat setelah itu aku kembali melanjutkan perjalanku menuju rumah senang rasanya bisa kembali di indonesia sepanjang jalan didalam mobil aku melihat suasana jalan raya yang begitu ramai aku sangat menikmati perjalan menuju kerumah, sesampainya dirumah mbok asri penyapa ku dan memeluku aku sangat merindu kan rumah juga mbok asri “hallo non raya mbo saya rindu pada non” ucap mbo asri sambil memeluku “sama mbo aku juga rindu sekali sama mbo” jawabku, setelah itu aku pergi ke kamar lalu aku melemparkan badan ku di kasur aku menarik nafas dan menghembuskan nafas aku menatap langit-langit kamar sambil menyetel musik menggunakan headset perlahan aku mulai mengantuk dan aku pun tertidur.
Aku terbangun dan meregangkan tubuh ku di atas tempat tidur malam tadi aku tidur sangat nyenyak mungkin karena aku sangat kekelahan, aku mengambil segelas air minum disamping tempat tidurku lalu aku meminum hingga habis aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan kedepan jendela kamar aku melihat keluar melihat pemandangan pagi hari udara pagi hari ini sangat segar aku melihat air embun diatas dedaunan menetes sedikit demi sedikit sungguh sangat terlihat indah. Aku berjalan menuju kamar mandi setelah itu aku berjalan menuju ruang makan disana sudah ada ibu dan ayah sedang duduk sambil menikmati sepotong roti dengan toping aku duduk disamping ibu, ayah dan ibu melihat kearahku sambil tersenyum aku heran kenapa ibu dan ayah tersenyum pada “ayah ibu apa ada yang salah denganku?” tanyaku penasaran “kamu ingat tidak hari ini tanggal berapa?” tanya ibu tersenyum, aku terdiam dan berfikir ada apa dengan hari ini “hari ini tanggal 25 desember benar kan?” jawabku “iya benar hari ini tanggal 25 desember, tapi kamu tahu tidak hari ini ada apa?” tanya ayah tersenyum “ya ampun baru saja ingat hari ini hari ulang tahunku” teriaku kaget, aku sama sekali tidak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunku, ayah dan ibu meghampiriku lalu memberikan keciuman dipipiku sambil memelukku “selamat ulang tahun sayangku” ucap ayah dan ibu yang menciumku dan memelukku. Saat aku mebuka ponsel banyak memberiku ucapan selamat aku tidak melihat ada pesan dari dama sudah lama aku tidak berkomunikasi dengan dama aku tidak tahu bagaimana kabarnya saat ini, aku pun berniat untuk pergi kerumah dama untuk bertemu denganya aku mengganti pakaianku lalu aku pergi menuju rumah dama. Sesampainya dirumah dama aku melihat suasana rumah dama sangat sepi banyak daun kering yang jatuh disekitar rumah dama, aku berjalan kedalam rumah dama lalu mengetuk pintu “permisi..permisi..dama, ini aku raya” teriakku sambil mengetuk pintu setelah sekian lama aku memanggil dama namun tidak ada seorang pun yang menjawab aku heran kemana perginya dama lalu aku berjalan keluar aku mencoba bertanya pada seorang ibu-ibu “permisi ibu apa ibu tau orang yang tinggal dirumah ini pergi kemana, saya sudah mengetuk pintu tapi tidak ada yang menjawab?” tanyaku penasaran “mas dama yang mba maksud?” tanyanya “iya benar bu.” Jawabku “mas dama dan keluarganya pergi kesingapura, mereka pergi berobat kalau tidak salah mas dama sedang sakit keras sampai-sampai dibawa berobat ke singapura, begitu mba.” Jawab ibu tersebut, aku kanget mendengar dama sakit “sakit? Sakit apa ya bu?” tanyaku kaget mendengar perkataan ibu itu kalau dama sedang sakit keras “kalau tidak salah sakit kanker” jawabnya, aku terkejut mendengar kabar itu selama ini dama tidak pernah cerita padaku kalau dia punya penyakit kanker “terima kasih ya bu atas informasinya, saya pergi dulu.” Ucapku aku segera bergegas pergi, aku masuk kedalam mobilku aku terdiam mendengar kabar bahwa dama sedang sakit keras tanpa pikir panjang aku pergi menuju bandara membeli tiket penerbangan ke singapura, aku mencoba menghubungi teman-teman dama dimana rumah sakit tempat dama dirawat dan aku mendapatkan informasi itu aku segera membeli tiket pesawat dalam waktu beberapa jam pesawat yang aku tumpangi akan take off aku masuk ke dalam pesawar dan aku pergi ke singapura.
Sesampainya disingapura aku pergi menuju rumah sakit tempat dama dirawat menggunakan taksi yang terparkir di depan bandara aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan dama dan melihatnya, perjalanan cukup lama karena rumat sakit tempat dama dirawat jaraknya cukup jauh dari bandara. Akhirnya aku sampai dirumah sakit tempat dama dirawat aku turun lalu membayar taksi dan aku langsung berlari mecari ruang tempat dama dirawat aku bertanya pada seorang suster tentang pasien bernama dama dan suster tersebut mengetahui dan memberikan nomor kamar dama pada aku, aku langsung berlari mencari ruangan tempat dama dirawat, aku pun menemukan ruang itu aku menghentikan langkah kakiku aku terdiam menatap pintu kamar rawat dama aku berjalan pelan sambil mencoba meraih pintu dengan pelan aku membuka pintu dan saat aku masuk dan berjalan kedalam pelan-pelan ternyata itu memang dama dia terlihat sedang duduk terbaring ditempat tidur sambil ditemani oleh ibunya yang duduk disamping tempat tidur dama sambil memegang tangan dama dengan kepala menunduk aku berjalan pelan mendekat dama ia terlihat tak sadarkan diri ibu dama terbangun lalu melihat kearahku ia terlihat kaget dengan kehadiranku “nak raya kenapa bisa ada disin?” tanya ibu dama yang terkejut dengan kahadiranku “tante ini dama? Dama sakit apa?” tanyaku dengan nada pelan raut wajah sedih “iya nak ini dama, dia sakit kanker leukemia memangnya nak raya tidak tau kalau dama sakit leukemia sejak lama dan kali ini sudah sangat parah.” Ucap ibu dama dengan raut wajah yang sedih “dama tidak pernah cerita apapun padaku tentang penyakitnya aku kaget mendengar kabar kalau dama sakit kanker mendengar hal itu aku langsung datang kesini aku ingin memastikan apa benar dama sakit, dan ternyata itu semua benar” ucapku yang tak kuasa menahan tangis aku menangis disamping dama sambil memegang tangan dama, ibu dama pun ikut menangis, dama terbangun ia membuka mata lalu menoleh kearahku “raya itu kamu?” tanya dama tersendat-sendat “dama..iya ini aku raya, aku kenapa sakit kamu tidak pernah cerita padaku tentang penyakitmu ini” jawabku sambil menggenggam tangan dama “maafkan aku raya aku tidak ingin kamu mengetahui tentang hal ini” ucap dama sambil menangis aku tak kuasa menahan tangis aku pu menangis lagi aku memeluk dama.
Aku mengajak dama berjalan-jalan keluar menggunakan kursi roda aku mendorong kursi roda dama aku sangat sedih melihat keadaan dama saat ini dama yang dulu aku kenal sangat ceria dan selalu membuat senang sekarang menjadi lemah dan tak berdaya, aku ingin menghibur dama namun aku tak sanggup aku tidak kuat melihat dama yang lemah hatiku rasanya sakit, aku berjalan lalu berlutut didepan dama “kenapa kamu tidak memberi tahuku tentang penyakit kamu ini aku kan temanmu dama” tanyaku sambil sedu-sedu “maafkan aku ray aku tidak ingin merusak pertemanan kita aku takut kamu pergi meninggalkanku setelah kamu menegtahui kalau aku punya penyakit ini, maka dari itu tidak memberi tahumu.” Jawab dama dengan sedih dan menyesal “aku tidak akan pergi meninggalkanmu dama kamu temanku mana mungkin aku pergi meninggalkanmu.” Ucap raya tegas “kamu mau berteman denganku saja aku sangat senang aku tidak mau kamu pergi dari hadapanmu sekuat tenanga aku perjuangkan untuk bisa menjadi temanmu setiap kali aku mendekatimu kamu selalu jutek dan datar tapi aku tidak mau menyerah aku terus berusaha untuk bisa menjadi temanmu.” Ucap dama sedih “kenapa kamu lakukan itu?” tanya raya dengan nada tegas “karena aku ingin membahagiakanmu raya aku menyayangimu, kalau aku terus terang pasti kamu akan menolak ku karena aku tahu kalau kamu sudah tidak ingin mencintai orang lagi, aku ingin membahagiakanmu raya aku ingin membuatmu merasa nyaman setiap kali kamu berada didekatku.” Jawab dama sambil memegang tanganku, aku terdiam setelah mendengar perkataan dama tadi aku terharu ternyata ada seseorang yang sangat ingin memperjuangkanku aku memang sudah tidak ingin mengenal tentang cinta dan persahabatan tapi setelah aku mendengar perkataan dama aku merasa terharu sekaligus sedih karena aku tidak bisa membalas perasaan dama, “aku sangat terharu mendengar perkataanmu tadi dama, kamu sudah berhasil membuatku senang dan nyaman didekatmu pertemanan yang kita jalani saat itu telah membuat aku merasa nyaman denganmu, aku mau mencoba membuka hatiku untukmu tetapi aku butuh waktu untuk bisa menerima kamu.” Ucapku sambil menggenggam lalu menatap wajah dama yang pucat pasi air mata terjatuh dari pipiku dama mengangkat tangannya lalu mengusap air mataku aku menangis lalu memeluk dama, “raya tunggu disini ya aku pergi dulu, tetap diam disini aku akan segera kembali.” Ucap dama lalu pergi sambil mendoronf kursi roda yang ia kenakan, aku duduk disekitar taman rumah sakit sambil menunggu dama tidak lama kemudian dama datang dari arah belakang sambil bernyanyi “happy birthday to you.. happy birthday to you.. happy birthday.. happy birthday.. happy birthday to you” teriak dam dari arah belakangku sambil membawa setangkai bunga mawar yang ia petik aku terharu melihat dama “terima kasih, ini sangat romantis” ucapku yang merasa terharu pada dama “maaf ya aku hanya bisa memberikanmu setangkai bunga, hanya ini yang bisa aku berikan padamu ray” ucap dama sambil menyodorkan setangkai bunga mawar padaku “tidak masalah. Sekarang itu yang paling penting kamu sembuh dan kita bisa bermain bersama lagi.” Ucap raya tersenyum manis sambil memegang setangkai bunga mawar pemberian dama, aku dan dama bersanda gurau bersama rasanya sangat nyaman dan senang dama kembali bisa tertawa begitu pun aku kami berdua tertawa bersama.
Aku harus segera kembali ke indonesia tetapi aku masih ingin menemani dama disini sampai dia sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa, aku melihat dama masuk keruangan untuk beristirahat dama memandang kearahku ia tersenyum dan aku pun tersenyum sambil melambaikan tangan pintu ruangan dama ditutup oleh suster aku berbalik lalu duduk di kursi koridor rumah sakit aku duduk sambil membuka ponselku ibu memberiku pesan kalau banyak rekan kampusku yang datang kerumah memberi kejutan padaku namun aku tidak ada dirumah aku membalas pesan ibuku lalu aku masukan kembali ponsel ke saku celana, aku diam dengan tatapan kosong rasanya aku mulai mengantuk lalu aku tertidur dikursi hingga pagi hari. “miss wake up” terdengar suara seorang wanita disampingku, aku tersadar lalu membuka mataku aku beranjak sambil megucak mataku ternyata wanita yang tadi membangunkan ku adalah seorang suster “I’m awake” teriakku pada suster itu, aku berdiri dan menengok ke pintu ruangan dama terlihat dama masih tertidur aku memutuskan pergi keluar aku berjalan keluar gedung rumah sakit mencari udara segar, aku diam ditaman tempat kemarin aku dan dama bermain aku melihat bunga disekelilingku bermekaran dengan warna yang sangat indah tiba-tiba saja ponselku berbunyi dan itu pesan dari ibuku ia menyuruhku untuk segera pulang ibuku mengkhawatirkanku, aku pun harus kembali masuk kuliah untuk menyelesaikan skripsiku, aku berlari menuju ruangan dama untuk  berpamitan, aku membuka pintu ruangan lalu masuk kedalam dama ternyata sudah bangun “selamat pagi dama, tante” ucapku sambil tersenyum “pagi raya” ucap dama dan ibunya, aku berjalan kesamping dama lalu aku memegang tangan dama “aku harus kembali ke indonesia masih ada urusan yang harus aku selesaikan disana, kamu harus kuat ya aku yakin kamu pasti sembuh dan kita bisa bermain bersama lagi, jaga diri kamu baik-baik ya.” seruku sambil bersedih karena harus meninggalkan dama yang sedang sakit. “iya ray kamu hati-hati ya, aku pasti kuat aku akan sembuh agar aku bisa bersama-sama denganmu lagi.” Ucap dama “iya aku pergi ya dama, aku janji aku akan menemuimu lagi.” Seruku sambil tersenyum lalu memeluk dama aku berpamitan dengan ibu dama rasanya berat sekali meninggalkan dama tetapi hal ini harus aku lakukan aku pergi ke bandara menunggu giliran pesawatku take off aku memulai perjalanku pulang ke indonesia.
Aku memulai aktivitasku seperti biasa, saat ini aku sedang menyelesaikan skripsi untuk mendapat gelar sarjana banyak waktu yang aku habis didepan leptop dam di perpustakaan aku sangat ingin segera lulus dari bangku kuliah sehingga aku bisa pergi menemui dama dan melihatnya sembuh aku benar-benar sangat bersemangat menjalani hari-hariku ini. Lima bulan telah berlalu skripsiku sudah selesai aku hanya tinggal memeriksa ulang tugas akhirku ini, ibu dan ayah sangat bangga padaku karena sebentar lagi aku akan lulus, dosen pembimbingku memberiku arahan tentang bagaimana menghadapi sidang skripsi nanti aku memberikan skripsiku untuk dinilai, satu minggu kemudian hasil kelulusan sudah terpasang dimading kampus dan ternyata aku LULUS dengan ipk sangat tinggi aku teriak sambi loncat-loncat kegirangan aku sangat bahagia aku bisa menyelesaikan tugasku ini dengan hasil yang sangat memuaskan, aku meberi tahu ibu dan ayah bahwa aku telah lulus mereka berdua terlihat sangat senang juga bangga padaku bulan depan aku wisuda, aku memutuskan untuk pergi ke singapura menemui dama aku pergi ke bandara lalu membeli tiket aku duduk dibandara sambil menunggu jadwal keberangkatan pesawat aku tidak sabar untuk bertemu dama aku yakin kalau dama sudah sehat kembali, jadwal peswat sudah keluar aku memulai perjalanku ke singapura, sesampainya disana aku pergi ke rumah sakit tempat dama dirawat saat sampai disana aku berlari menuju keruangan dama sambil membawa bunga tetapi saat aku masuk lalu membuka pintu ruangan dama tidak berada disana aku pergi mencari suster dan bertanya dimana pasien yang bernama dama namun, suster itu menjawab bahwa dama sudah tidak dirawat disana dia sudah dipulangkan ke indonesia karena dama sudah meninggal satu minggu yang lalu aku kaget mendengar hal itu aku menjatuhkan bunga yang aku pegang mataku melotot air mataku jatuh aku tidak percaya dengan ucapan suster itu tapi ia membuktikannya dengan memperlihatkanku daftar pasien meninggal satu minggu terakhir dan disitu tercantum nama dama yang meninggal tepat dihari senin minggu lalu aku sangat tidak percaya dengan hal ini aku berlari kencang menuju luar gedung rumah sakit aku berlari keluar mencari taksi dan aku menemukan, aku menstop taksi tersebut lalu aku pergi ke bandara aku sepanjang jalan aku menangis aku tidak percaya dama telah pergi meninggalkanku selama-lamanya sesampainya dibandara aku langsung memesan tiket lalu aku terbang dengan pesawat ke indonesia, setelah sampai aku langsung berlari mencari taksi setelah itu aku meneruskan perjalananku kerumah dama saat aku sampai disana banyak rangkaian bunga yang terpajang disekitar rumah dama itu adalah rangkaian bunga ucapan duka cita atas kepergian dama aku berlari masuk ke dalam rumah dama disana ada ibu dama yang memakai pakaian hitam duduk disofa sambil memegang foto dama dirumah dama banyak orang yang sedang mengaji aku berjalan menghampiri ibu dama lalu aku mengangis dihadapan ibu dama “raya” teriak ibu dama yang terkejut “tante kenapa tidak memberi tahu ku tentang hal ini kenapa tante kenapa!” teriakku sambil menangis kencang “maafkan tante ray, ini pesan dari dama untuk tidak memberi tahu mu tentang kondisi dama sampai dia meninggal.” Ucap ibu dama sambil menangis dihadapanku, ibu dama mengantarkanku ke tempat peristirahatan terakhir dama disana aku menangis kencang sambil memegang tanah makam dama aku menangis dan berteriak “dama jangan tinggalkan aku” aku tak berhenti menangis ibu dama hanya berdiri sambil memegang pundakku berusaha untuk menenangkanku namun aku tetap menangis sungguh aku tidak menyangka aku harus kembali kehilangan seseorang yang aku sayangi setelah kejadian ini aku tidak pernah lagi mencoba untuk mencintai dan menyayangi orang lain dama adalah pria terakhir yang aku cintai, aku takut ketika aku mulai mencintai seseorang lagi dia akan pergi meninggalkanku. Setiap hari aku datang ke makam dama sambil membawa bunga ini yang selalu aku lakukan setiap harinya sampai akhirnya aku harus pergi ke belanda untuk meneruskan pendidikan S2  disana selama hampir 4 tahun, aku pergi meninggalkan dama “aku harus pergi cukup lama meninggalkanmu, kamu baik-baik ya disana do’aku selalu menyertaimu dama, aku mencintaimu.” Ucapku sambil memegang baru nisan dama, setelah itu aku berjalan pergi meninggalkan dama.
Ada dua hal yang sangat berarti dalam hidup ini yang pertama yaitu cinta dan kematian apabila kalian telah siap menerima itu semua berarti kalian sidah siap dengan semua resiko yang akan kalian dapat.
Hidup adalah sebuah pilihan, pilihan untuk bahagia atau sedih semua itu terjadi bagaimana kalian menanggapi hidup ini.


--Tamat--

0 komentar:

Post a Comment