Oleh: Hasna Nadhifah.
Malam ini terasa sunyi
hanya hembusan angin, dan dinginnya udara malam yang menusuk tubuh yang
menemaniku malam ini. Aku duduk diatas kasur sambil memandang sebuah bingkai
foto yang berisi fotoku, kekasihku, dan sahabatku, hatiku rasanya sangat sakit
bila harus mengingat kejadian diantara kami sedikitpun aku tidak pernah
terbayangkan akan mengalami hal seperti ini, sosok sahabat yang sangat aku
sayangi tega-teganya mengkhianatiku, juga kekasihku yang sangat aku cintai
merusak persahabatan aku dan sahabatku sebut saja Rachel, aku dan Rachel sudah
berteman sejak lama rachel sudah seperti saudara bagiku namun kenyataanya dia
malah mengkhianati persahabat yang sudah kita jalani sejak lama. Tidak ingin
aku mengingat hal ini lagi aku melempar bingkai foto itu lalu aku terbaring
sambil menarik selimut.
Namaku Raya aku seorang
gadis yang mempunyai pendirian tinggi dan satu hal aku tidak percaya dengan
persahabatan dan percintaan dual hal itu yang paling aku benci didunia ini dua
hal terkejam yang bisa menghancurkan diri kita semua, aku sangat menghindari
dua hal itu sampai sekarang aku tidak pernah mau untuk mengenal seseorang
dengan sangat dekat semua orang yang aku kenal hanya aku jadikan seperi figuran
dalam film. Pagi ini aku mulai mengerjakan aktivasku seperti bisa pergi ke
kampus dan setelah itu... ”ibu raya berangkat ke kampus, sampai jumpa bu”. Aku bukan tipe gadis yang manja yang hanya
mengandalkan harta kekayaan orang tua setiap hari aku pergi ke kampus
menggunakan bis kota biarpun kotor dan bau tapi aku sangat menikmati
suasananya. “stop disini bang!” aku turun dari bis kota lalu berjalan ke
kampus, aku berjalan sambil menenteng tas yang aku simpan di bahu sebelah kanan
dan memegang buku, aku terus berjalan hingga sampai di loker tempat biasa aku
menyimpan keperluanku selama dikampus aku membuka loker lalu aku mengambil
segulung kertas karton putih yang berisi materi persentasiku hari ini, aku
menutup kembali loker ku dan..... “Daaaarrrrr!” teriak seseorang yang tiba-tiba
muncul disamping pintu lokerku, aku terkejut dan dengan spontan aku menjatuhkan
semua barang yang aku pegang “maaf!maafkan aku ray, aku bantu ya!” seru
seseorang tadi sebut saja Dama ia adalah teman kampusku kami satu fakultas dan
dia sangat baik tapi aku tetap tidak mau menganggap kebaikan dia berlebihan.
“dama, kamu bikin aku kaget” ucapku sambil membereskan barang-barang yang
terjatuh dilantai dama pu membantuku “maaf ya aku hanya bercanda.” Ucap dama
sambil membereskan barang-barangku “makasih ya bantuanya aku pergi dulu!”
seruku lalu tersenyum, aku pergi berjalan meninggalkan dama “kamu tidak pernah
berubah raya tetap jutek dan datar.” Ucap dama didalam hati. Dama diam diam
menyukai aku, walaupun dama tahu bahwa sampai kapan pun aku tidak pernah
membuka hati untuk siapapun termasuk dama, tapi mungkin dama yakin bahwa suatu
hari nanti hati diriku akan terbuka untuk dama.
Aku sudah duduk didalam
kelas menunggu giliran untuk persentasi, aku melihat dama masuk keruangan kelas
dia berjalan menuju kearahku lalu duduk disampingku “bolehkan aku duduk
disini?” tanya dama dengan nada pelan “silahkan!” jawabku dengan ekspresi wajah
datar. Dama hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum miris. Persentasi
telah dimulai satu persatu setiap mahasiswa dipanggil, dan kini giliranku maju
kedepan untuk persentasi. Selama aku menjelaskan didepan dama terus
memperhatikanku tapi aku tidak peduli dengan perhatianya, sampai akhirnya
persentasi selesai semua orang memberikan terpuk tangan padaku, aku berjalan
dan duduk kembali di kursiku “persentasimu bagus ray singkat, padat, jelas, dan
satu lagi menarik” puji dama padaku “iya terima kasih!” jawabku dengan sedikit
senyuman, dama pun tersenyum miris ia lalu menundukan kepalanya lalu mengangkat
menunduk lagi dan mengangkat lagi terus saja begitu, aku melihat dama tapi aku
tidak ingin menanyakan padanya aku tetap tidak peduli dengan tingkah dama.
Persentasi pun selesai, aku bersiap-siap meninggalkan ruangan kelas setelah itu
aku berjalan menuju lokerku lalu menyimpan semua peralatan saat persentasi tadi,
setelah itu aku pergi menuju perpustakaan “raya, tunggu!” teriak dama sambil
berlari menuju kearahku “kamu mau kemana?” tanya dama “keperpustakaan” jawabku
seperti biasa dengan nada dan wajah datar “aku ikut ya sekalian aku mau cari
buku statistik, boleh ya?” ucap dama “tentu saja!” jawabku “yes!! Makasih ray”
seru dama dengan gembira, aku hanya menjawab dengan anggukan kepala dan kembali
berjalan menuju perpustakaan dama berjalan disampingku raut wajahnya terlihat
sangat senang tapi aku tetap tidak ingin peduli dengan hal itu. Sesampainya
diperpustakaan aku mencari buku, setelah sekian lama aku mencari ternyata tidak
ada buku yang cocok denganku aku pun keluar dari perpustakaan “raya mau kemana?
Tunggu aku!” teriak dama lalu berlari ke arahku “aku mau pulang” jawabku datar
“kalau begitu aku antar kamu pulang ya mau kan? Mau ya please raya aku mohon
sekali ini saja!” ajak dama sambil memohon-mohon dihadapanku “makasih, tapi aku
masih bisa pulang sendiri” jawabku “aku mohon raya izin kan aku mengantarmu
pulang sampai kerumah dengan selamat, aku mohon!” ucap dama, dia berlutut
dihadapanku dan banyak orang lain yang lewat melihat aku merasa malu dan
menarik dama untuk berdiri “dama bangun jangan begini, aku malu” ucapku sambil
mengangkat dama untuk tidak berlutut dihadapanku “tapi aku mohon izinkan aku
mengantarmu pulang, lagian cuaca mendung pasti sebentar lagi hujan” seru dama,
tiba-tiba hujan turun “tuh kan hujan” ucap dama kembal, aku berfikir ulang
untuk menerima tawaran dama “yasudah aku mau. Cepat bangun jangan berlutut malu
dilihat orang lan” jawabku lalu membangunkan dama “benar? Yesss! Mari aku antar
ke parkiran” seru dama dengan sangat gembira, aku terpaksa menerima tawaran
dama karena hujan turun dan aku tidak membawa payung. Aku masuk kedalam mobil begitu
juga dama, selama didalam mobil aku dan dama hanya terdiam hinggal sampai
didepan rumahku dama keluar membawa payung lalu membuka pintu mobilku, dama
mengantarku sampai depan pintu rumahku “makasih, sudah antar aku pulang sampai
rumah” ucapku tersenyum “sama-sama raya aku senang akhirnya kamu mau menerima
tawaranku setelah sekian lama aku meminta” ucap dama, aku hanya menjawabnya
dengan senyuman “aku masuk kedalam dulu ya, sampai nanti!” ucapku “tunggu ray!”
sahut dama, aku pu menoleh kearah dama “kita bisa jadi teman kan?” tanya dama
dengan nada pelan, aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu sejenak aku terdiam
dan aku tidak menjawab pertanyaan dama aku berjalan cepat masuk ke dalam rumah
lalu menutup pintu, dama hanya terdiam didepan pintu sambil memegang payung
“aku pulang, sampai nanti raya” teriak dama lalu pergi. Aku terdiam dibalik
pintu aku tidak ingin mendengar kata “teman” didalam hidupku karena aku tahu
hal itu pasti akan membuat diriku terluka dan akan menghancurkan hidupku
seperti saat ini air mata turun di pipiku hatiku sangat sakit bila harus
mengingat tentang hal itu, rachel sahabatku dengan tega merebut kekasihku niko,
dulu aku dan niko menjalin kasih selama 7 tahun dan selama itu aku tidak pernah
merasa bosan, niko selalu membuatku bahagia dia tidak pernah membuat aku marah,
kesal bahkan menangis inilah yang membuat aku sangat mencintai niko, tetapi
semua itu ternyata merugikanku setelah aku menengetahui bahwa selama 7 tahun
pula niko dan rachel menjalin kasih, setelah niko menyatakan cintanya padaku
disaat itu pula niko menyatakan cinta pada rachel sahabatku sendiri aku baru
mengetahui hal itu setelah hubungan aku dan niko berjalan selama ini,
sedikitpun aku tidak menyangka rachel akan mengkhianati persahabatan ini, niko
lelaki yang aku kenal dia orang yang sangat baik ternyata dibalik semua itu dia
ternyata lebih kejam dari makhluk mana pun dia sudah merusak perasaanku,
persahabatanku juga masa depanku, dulu aku mengandung anak niko tapi karena
mental dan fisikku yang terganggung kandunganku mengalami keguguran, niko
berjanji dia akan menikahiku kami berdua sudah menyiapkan baju pengantin dan
segala keperluan pernikahan tapi tuhan berkata lain akhirnya sebelum pernikahan
terjadi semua kebusukan niko terbongkar hingga akhirnya pernikahan kami berdua
gagal dan bayi kami pun keguguran ini semua membuatku sangat stress sampai saat
ini. Sekarang aku tidak tahu dimana rachel dan dimana niko kami tidak pernah
bertemu selama 2 tahun terakhir yang aku tahu rachel bekerja sebagai cleaning
service di cafe langgananku dan setelah itu aku tidak pernah datang ke cafe
itu, persahabatan dan percintaan hanya membuat luka bagiku. Aku mengusap air
mata lalu aku berdiri dan membuka pintu namun dama sudah tidak ada diluar
mungkin dia sudah pergi, aku menutup pintu kembali lalu berjalan manuju kamar.
Keesokan harinya
dikampus aku sedang duduk sambil makan es krim, tiba-tiba dama datang dan duduk
didepanku “hai raya” sapa dama dengan tersenyum, aku hanya menganggukan kepala
“raya aku minta maaf atas perkataanku kemarin, aku terlalu gembira hingga aku
berkata kelewat batas maafkan aku raya!” ujar niko dengan gugup “tidak masalah”
aku menjawabnya lalu pergi sambil membawa es krim yang sedang ku makan aku
berjalan meninggalkan dama di kursi ku tadi. “raya aku tidak akan pernah
menyerah!” ucap dama di dalam hati sambil melihat raya berjalan pergi
meninggalkanya. Dalam hati aku merasa aku sangat bersalah pada dama, tapi aku
tetap tidak mau melebih-lebih kan kebaikan orang lain cukup itu sebagai figuran
dalam kehidupanku. Karena tidak ada lagi kegiatan dikampus aku memutuskan untuk
pergi ke cafe sekarang kemana pun aku pergi aku membawa kendaraan mobil, aku
pergi menuju cafe di pusat kota, aku masuk lalu duduk dikursi dekat kaca depan
yang lebar sehingg aku bisa melihat suasana diluar bangunan cafe, aku memesan
secangkir cappucino dan onion ring, aku mengeluarkan leptopku disini aku sambil
mengerjakan tugas kuliah aku mengetik dan akhirnya makanan yang aku pesan
datang dan disimpan disamping leptopku aku melihat kearah kaca sambil terdiam
aku terpikir soal dama dia pasti sangat sakit hati oleh perlakuanku tadi aku
menggelengkan kepala dan aku tidak mau berpikir soal dama, dan aku pun kembali
mengerjakan tugasku. Setelah berjam-jam aku berada di cafe sampai tugasku
selesai dikerjakan aku membereskan leptopku lalu membayar makanan yang tadi aku
pesan setelah itu aku pergi keluar saat aku berjalan keluar aku seperti melihat
dama sedang duduk dipojok kursi cafe aku mendekat dan ternyata itu memang dama
dia terlihat sangat murung dan melamun dia hanya memutar setotan air minum yang
ada dihadapanya aku ingin menghampiri dama tapi aku tidak mau aku tidak boleh
melakukan hal itu aku cepat-cepat berlari keluar menghindari dama dan tak sengaja
aku menabrak seseorang BRAAKK! Aku terjatuh “aduh mba maafkan saya, mba tidak
apa-apa?” ucap seseorang yang terdengar suaranya seperti seorang pria saat aku
mengangkat kepalaku keatas ternyata itu niko, niko terlihat sangat kaget begitu
pun aku berdiri “kamu!!!” teriak aku dengan nada kesal “raya, i..tu be..nar
kamu?” ucap niko dengan wajah kaget dan nada gugup “gak usah tau siapa aku
minggir kamu!!” teriak ku dengan nada kesal aku berjalan lalu mendorong niko saat
aku berjalan ternyata didepanku ada seorang wanita dan itu ternyata rachel dia
terlihat sedang memegang perutnya yang membesar “raya” seru rachel yang
memegang tanganku, aku terdiam rasanya aku ingin menangis dan air mata mulai
terjatuh aku melepaskan tangan rachel yang memegang tanganku aku mengusap air
mata lalu berlari, sepertinya dama mendengar teriakanku dia berdiri lalu
berjalan ke arah ku, niko berlari kearahku dia menarik tanganku “raya aku mohon
dengarkan aku sekali saja” ucap niko “gak ada lagi yang harus dijelasin aku
tidak mau mencampuri kehidupan kalian berdua yang sangat bahagia aku sudah
cukup sakit dengan semua ini, permis!!” jawabku sambil melepaskan tangan niko,
dan dama meliha kearahku aku pu melihat kearah dama aku tak hiraukan mereka aku
berlari ke mobil lalu pergi, sepanjang jalan aku menangis dengan kencang aku
teriak sambil memukul stir mobil, hatiku masih belum sanggup untuk melihat
wajah niko dan rachel setiap aku melihatnya rasa sakit sangat terasa sampai air
mata terjatuh, aku berhenti di jembatan dan aku berjalan keluar aku ingin
mengakhiri hidupku ini aku tidak sanggup menerima kenyataan hidup ini yang
menyakitkan dan sangat menyiksa ku aku berdiri diatas besi pembatas jembatan
dengan tangan terlentang aku menutup mataku dan..... Aku terbangun dengan
pandangan buram aku perlahan membuka mata lalu mengedip ternyata aku berada di
suatu ruangan saat beranjak ternyata aku berada dirumah sakit ditangan kananku
terpasang jarum infus aku menoleh ke kiri dan kekanan aku melihat seorang pria
tertidur disofa dan ternyata itu dama aku langsung loncat dari kasur lalu
menghampiri dama dan membangunkanya “dama bangun..dama bangun” ucapku sambil
menepuk pipi dama, dama membuka mata “raya aku sudah sadar?” ucap dama kaget
“aku kenapa dama, kenapa aku bisa ada disini?” tanyaku dengan wajah cemas “kamu
kemarin hampir mau lompat dari jembatan aku tarik dan kamu pingsan maka dari
itu aku langsung membawamu kesini, kamu sekarang sudah tidak apa-apa?” jawab
dama sambil memegang bahuku, aku terharu atas perhatian dama dia begitu cepat
ada disampingku padahal selama ini aku selalu cuek tapi dama tetap selalu ada
untukku, dengan tidak sadar aku memeluk dama dengan erat sambil menangis “dama
terima kasih” ucapku menangis “sama-sama ray, sudah jangan menangis” ucap dama
sambil mengelus kepalaku, aku melepaskan pelukkan “aku mau jadi temanmu” seruku
yang mencoba untuk tersenyum lalu menagis kembali dan memeluk dama “serius ray?
Terima kasih ray, aku sangat senang!” ucap dama gembira. Kini aku mulai
menerima dama sebagai temanmu atas ketulusanya mempertahankanku.
Semenjak saat itu aku
dan dama menjalin pertemanan tapi dengan batasan-batasan dama memang temanku
tapi aku tetap datar tapi tidak terlalu cuek seperti sebelumnya, ketika aku
berbincang dengan dama aku mulai menggunkan intonasi yang lembut disertai
dengan senyuman tipis, dama masih tetap bersikap seperti sebelumnya dia tidak
pernah menyerah untuk bisa membuatku tersenyum meski pun aku tetap datar.
Diruang kelas dama selalu duduk disampingku, kemana pun aku pergi saat dikampus
dama selalu mengikutiku dia tidak pernah meninggalkanku sendiri saat ke
toiletpun dia menemaniku ya tentu saja dia harus menunggu diluar saat pulang
kerumah dama mengikuti mobilku dari belakang sampai aku tiba didepan rumah dari
situ malam harinya dama menelponku hampir setiap hari tetapi tetap saja aku
masih dengan ekspresi datar setiap kali aku berbicara dengan dia, setiap hari
selalu seperti ini dama selalu ada disampingku kemana pun aku pergi aku jadi
mulai sering pergi keluar bermain bersama dama weekend aku habiskan waktuku
bermain dengan dama,hingga aku bisa tertawa gembira saat bermain dengannya,
kini dama menjadi temanku.
“raya, cepat kesini ini
ada surat dari temanmu!” teriak ibuku dari bawah aku sedang berada di lantai
atas rumahku “iya ibu ada apa?” jawabku “ini ada surat sepertinya dari teman
kamu”. Aku membuka amplop surat itu lalu aku mebuka isi surat “selamat pagi
putri jutek datar semangat belajar menuju uas tetap semangat dan ingat satu
hal, tetap tersenyum walau hati sedih salam dama” aku membacakan isi surat itu
dan itu ternyata dari dama aku tersenyum membaca surat itu dama memang selalu
bisa membuatku tersenyum, aku pergi ke kamarku kembali lalu aku menelpon dama
“hai makasih suratnya” (berbincang di telepon) “hai raya, ternyata sudah baca
suratnya” (berbincang di telepon) “iya aku sudah baca” (berbincang di telepon)
“semangat raya kamu pasti bisa” (berbincang di telepon) “iya terima kasih,
sudah dulu sampai nanti” aku menutup telepon, aku tersenyum sepertinya aku
mulai senang, aku pu kembali membaca buku pelajaran. Uas hari pertama dimulai
dama mengirim pesan pada ku TETAP
TERSENYUMJ
aku tidak membalas pesan dama, sesampainya dikampus dama menyapaku dan aku
hanya menjawabnya dengan senyuman, uas dimulai setiap hari selama uas dama
selalu mengirimku pesan yang isinya TETAP TERSENYUMJ
aku senang atas perhatian dama pada aku tetapi aku tetap tidak ingin
melebih-lebihkan kebaikan orang lain padaku.
Uas telah selesai, dan
hasilnya sudah dibagikan kini saatnya aku libur semester aku dan keluargaku
memutuskan untuk pergi keluar negeri kami semua pergi ke amsterdam belanda
disana ayahku akan mengurus mengenai masalah sekolahku. Satu bulan aku berada
di belanda dan selama itu aku tidak berkomunikasi dengan dama, semakin kesini
rasa sakitku yang dulu perlahan mulai sirna meskipun belum sepenuhnya, aku
masih merasakan sakit hati setiap kali aku mengingat wajah niko dan rachel
mendengar nama mereka saja aku sudah sakit apalagi aku membayangkan wajahnya,
ibu dan ayahku tidak pernah menanyakan mengenai masalah diantara kami orang
tuaku kecewa saat pernikahan aku dan niko dibatalkan dan mereka tidak tahu
alasan aku membatalkan pernikahanku, cincin pertungan aku dan niko masih aku
simpan cincin itu aku simpan di box yang berisi semua foto-foto aku, niko, dan
rachel. Aku masih belum menerima kenyataan ini padahal sudah hampir 2 tahun
masalah ini berlalu tapi luka yang aku alami masih berbekas, apalagi setelah
aku tahu bahwa rachel telah hamil menurutku mereka sudah menikah semakin sakit
rasanya bila meningat hal itu air mataku turun aku menghapusnya dan kembali
tersenyum tapi aku tidak dapat menahan air mata dan rasa sakit ini aku tak
kuasa menahan air mata aku menangis. “raya kita makan malam, nak” ajak ibuku,
aku menghapus air mata ku “baik bu” jawabku, dimeja makan tersedia banyak
hidangan makan eropa aku mengambil makan yang tersedia aku makan dengan pelan
dan dengan wajah yang terlihat seperti habis menangis, ayah dan ibu heran
dengan ku “raya kamu baik-baik saja kan?” tanya ibu khawatir “iya bu!” jawabku
kaget “kamu engga sakit kan?” tanya kembali ayah “aku sehat yah, bu” jawabku
dengan senyuman kecil “syukur kalau begitu ayah takut kamu sakit” ucap ayah,
aku membalasnya dengan senyuman.Setelah satu bulan kami berlibur dibelanda saat
nya kami pulang kembali ke indonesia rasanya sangat senang bisa kembali ke
indonesia aku pergi ke airport berjalan sambil menarik koper wajahku terlihat
sangat senang ayah merangkulku sambil tersenyum dan aku membalas senyuman ayah,
kami semua masuk kedalam pesawat. Hampir selama 14jam aku berada di pesawat
hingga tiba di indonesia dengan selamat setelah itu aku kembali melanjutkan
perjalanku menuju rumah senang rasanya bisa kembali di indonesia sepanjang
jalan didalam mobil aku melihat suasana jalan raya yang begitu ramai aku sangat
menikmati perjalan menuju kerumah, sesampainya dirumah mbok asri penyapa ku dan
memeluku aku sangat merindu kan rumah juga mbok asri “hallo non raya mbo saya
rindu pada non” ucap mbo asri sambil memeluku “sama mbo aku juga rindu sekali
sama mbo” jawabku, setelah itu aku pergi ke kamar lalu aku melemparkan badan ku
di kasur aku menarik nafas dan menghembuskan nafas aku menatap langit-langit
kamar sambil menyetel musik menggunakan headset perlahan aku mulai mengantuk dan
aku pun tertidur.
Aku terbangun dan
meregangkan tubuh ku di atas tempat tidur malam tadi aku tidur sangat nyenyak
mungkin karena aku sangat kekelahan, aku mengambil segelas air minum disamping
tempat tidurku lalu aku meminum hingga habis aku beranjak dari tempat tidur dan
berjalan kedepan jendela kamar aku melihat keluar melihat pemandangan pagi hari
udara pagi hari ini sangat segar aku melihat air embun diatas dedaunan menetes
sedikit demi sedikit sungguh sangat terlihat indah. Aku berjalan menuju kamar
mandi setelah itu aku berjalan menuju ruang makan disana sudah ada ibu dan ayah
sedang duduk sambil menikmati sepotong roti dengan toping aku duduk disamping
ibu, ayah dan ibu melihat kearahku sambil tersenyum aku heran kenapa ibu dan
ayah tersenyum pada “ayah ibu apa ada yang salah denganku?” tanyaku penasaran
“kamu ingat tidak hari ini tanggal berapa?” tanya ibu tersenyum, aku terdiam
dan berfikir ada apa dengan hari ini “hari ini tanggal 25 desember benar kan?”
jawabku “iya benar hari ini tanggal 25 desember, tapi kamu tahu tidak hari ini
ada apa?” tanya ayah tersenyum “ya ampun baru saja ingat hari ini hari ulang
tahunku” teriaku kaget, aku sama sekali tidak ingat kalau hari ini adalah hari
ulang tahunku, ayah dan ibu meghampiriku lalu memberikan keciuman dipipiku
sambil memelukku “selamat ulang tahun sayangku” ucap ayah dan ibu yang
menciumku dan memelukku. Saat aku mebuka ponsel banyak memberiku ucapan selamat
aku tidak melihat ada pesan dari dama sudah lama aku tidak berkomunikasi dengan
dama aku tidak tahu bagaimana kabarnya saat ini, aku pun berniat untuk pergi
kerumah dama untuk bertemu denganya aku mengganti pakaianku lalu aku pergi
menuju rumah dama. Sesampainya dirumah dama aku melihat suasana rumah dama
sangat sepi banyak daun kering yang jatuh disekitar rumah dama, aku berjalan
kedalam rumah dama lalu mengetuk pintu “permisi..permisi..dama, ini aku raya”
teriakku sambil mengetuk pintu setelah sekian lama aku memanggil dama namun
tidak ada seorang pun yang menjawab aku heran kemana perginya dama lalu aku
berjalan keluar aku mencoba bertanya pada seorang ibu-ibu “permisi ibu apa ibu
tau orang yang tinggal dirumah ini pergi kemana, saya sudah mengetuk pintu tapi
tidak ada yang menjawab?” tanyaku penasaran “mas dama yang mba maksud?”
tanyanya “iya benar bu.” Jawabku “mas dama dan keluarganya pergi kesingapura,
mereka pergi berobat kalau tidak salah mas dama sedang sakit keras
sampai-sampai dibawa berobat ke singapura, begitu mba.” Jawab ibu tersebut, aku
kanget mendengar dama sakit “sakit? Sakit apa ya bu?” tanyaku kaget mendengar
perkataan ibu itu kalau dama sedang sakit keras “kalau tidak salah sakit
kanker” jawabnya, aku terkejut mendengar kabar itu selama ini dama tidak pernah
cerita padaku kalau dia punya penyakit kanker “terima kasih ya bu atas
informasinya, saya pergi dulu.” Ucapku aku segera bergegas pergi, aku masuk
kedalam mobilku aku terdiam mendengar kabar bahwa dama sedang sakit keras tanpa
pikir panjang aku pergi menuju bandara membeli tiket penerbangan ke singapura,
aku mencoba menghubungi teman-teman dama dimana rumah sakit tempat dama dirawat
dan aku mendapatkan informasi itu aku segera membeli tiket pesawat dalam waktu
beberapa jam pesawat yang aku tumpangi akan take off aku masuk ke dalam pesawar
dan aku pergi ke singapura.
Sesampainya disingapura
aku pergi menuju rumah sakit tempat dama dirawat menggunakan taksi yang
terparkir di depan bandara aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan dama dan
melihatnya, perjalanan cukup lama karena rumat sakit tempat dama dirawat
jaraknya cukup jauh dari bandara. Akhirnya aku sampai dirumah sakit tempat dama
dirawat aku turun lalu membayar taksi dan aku langsung berlari mecari ruang
tempat dama dirawat aku bertanya pada seorang suster tentang pasien bernama
dama dan suster tersebut mengetahui dan memberikan nomor kamar dama pada aku,
aku langsung berlari mencari ruangan tempat dama dirawat, aku pun menemukan
ruang itu aku menghentikan langkah kakiku aku terdiam menatap pintu kamar rawat
dama aku berjalan pelan sambil mencoba meraih pintu dengan pelan aku membuka
pintu dan saat aku masuk dan berjalan kedalam pelan-pelan ternyata itu memang
dama dia terlihat sedang duduk terbaring ditempat tidur sambil ditemani oleh
ibunya yang duduk disamping tempat tidur dama sambil memegang tangan dama
dengan kepala menunduk aku berjalan pelan mendekat dama ia terlihat tak
sadarkan diri ibu dama terbangun lalu melihat kearahku ia terlihat kaget dengan
kehadiranku “nak raya kenapa bisa ada disin?” tanya ibu dama yang terkejut
dengan kahadiranku “tante ini dama? Dama sakit apa?” tanyaku dengan nada pelan
raut wajah sedih “iya nak ini dama, dia sakit kanker leukemia memangnya nak
raya tidak tau kalau dama sakit leukemia sejak lama dan kali ini sudah sangat
parah.” Ucap ibu dama dengan raut wajah yang sedih “dama tidak pernah cerita
apapun padaku tentang penyakitnya aku kaget mendengar kabar kalau dama sakit
kanker mendengar hal itu aku langsung datang kesini aku ingin memastikan apa
benar dama sakit, dan ternyata itu semua benar” ucapku yang tak kuasa menahan
tangis aku menangis disamping dama sambil memegang tangan dama, ibu dama pun
ikut menangis, dama terbangun ia membuka mata lalu menoleh kearahku “raya itu
kamu?” tanya dama tersendat-sendat “dama..iya ini aku raya, aku kenapa sakit
kamu tidak pernah cerita padaku tentang penyakitmu ini” jawabku sambil
menggenggam tangan dama “maafkan aku raya aku tidak ingin kamu mengetahui
tentang hal ini” ucap dama sambil menangis aku tak kuasa menahan tangis aku pu
menangis lagi aku memeluk dama.
Aku mengajak dama
berjalan-jalan keluar menggunakan kursi roda aku mendorong kursi roda dama aku
sangat sedih melihat keadaan dama saat ini dama yang dulu aku kenal sangat
ceria dan selalu membuat senang sekarang menjadi lemah dan tak berdaya, aku
ingin menghibur dama namun aku tak sanggup aku tidak kuat melihat dama yang
lemah hatiku rasanya sakit, aku berjalan lalu berlutut didepan dama “kenapa
kamu tidak memberi tahuku tentang penyakit kamu ini aku kan temanmu dama”
tanyaku sambil sedu-sedu “maafkan aku ray aku tidak ingin merusak pertemanan
kita aku takut kamu pergi meninggalkanku setelah kamu menegtahui kalau aku
punya penyakit ini, maka dari itu tidak memberi tahumu.” Jawab dama dengan
sedih dan menyesal “aku tidak akan pergi meninggalkanmu dama kamu temanku mana
mungkin aku pergi meninggalkanmu.” Ucap raya tegas “kamu mau berteman denganku
saja aku sangat senang aku tidak mau kamu pergi dari hadapanmu sekuat tenanga
aku perjuangkan untuk bisa menjadi temanmu setiap kali aku mendekatimu kamu selalu
jutek dan datar tapi aku tidak mau menyerah aku terus berusaha untuk bisa
menjadi temanmu.” Ucap dama sedih “kenapa kamu lakukan itu?” tanya raya dengan
nada tegas “karena aku ingin membahagiakanmu raya aku menyayangimu, kalau aku
terus terang pasti kamu akan menolak ku karena aku tahu kalau kamu sudah tidak
ingin mencintai orang lagi, aku ingin membahagiakanmu raya aku ingin membuatmu
merasa nyaman setiap kali kamu berada didekatku.” Jawab dama sambil memegang
tanganku, aku terdiam setelah mendengar perkataan dama tadi aku terharu ternyata
ada seseorang yang sangat ingin memperjuangkanku aku memang sudah tidak ingin
mengenal tentang cinta dan persahabatan tapi setelah aku mendengar perkataan
dama aku merasa terharu sekaligus sedih karena aku tidak bisa membalas perasaan
dama, “aku sangat terharu mendengar perkataanmu tadi dama, kamu sudah berhasil
membuatku senang dan nyaman didekatmu pertemanan yang kita jalani saat itu
telah membuat aku merasa nyaman denganmu, aku mau mencoba membuka hatiku
untukmu tetapi aku butuh waktu untuk bisa menerima kamu.” Ucapku sambil
menggenggam lalu menatap wajah dama yang pucat pasi air mata terjatuh dari
pipiku dama mengangkat tangannya lalu mengusap air mataku aku menangis lalu
memeluk dama, “raya tunggu disini ya aku pergi dulu, tetap diam disini aku akan
segera kembali.” Ucap dama lalu pergi sambil mendoronf kursi roda yang ia
kenakan, aku duduk disekitar taman rumah sakit sambil menunggu dama tidak lama
kemudian dama datang dari arah belakang sambil bernyanyi “happy birthday to
you.. happy birthday to you.. happy birthday.. happy birthday.. happy birthday
to you” teriak dam dari arah belakangku sambil membawa setangkai bunga mawar
yang ia petik aku terharu melihat dama “terima kasih, ini sangat romantis”
ucapku yang merasa terharu pada dama “maaf ya aku hanya bisa memberikanmu
setangkai bunga, hanya ini yang bisa aku berikan padamu ray” ucap dama sambil
menyodorkan setangkai bunga mawar padaku “tidak masalah. Sekarang itu yang
paling penting kamu sembuh dan kita bisa bermain bersama lagi.” Ucap raya tersenyum
manis sambil memegang setangkai bunga mawar pemberian dama, aku dan dama
bersanda gurau bersama rasanya sangat nyaman dan senang dama kembali bisa
tertawa begitu pun aku kami berdua tertawa bersama.
Aku harus segera
kembali ke indonesia tetapi aku masih ingin menemani dama disini sampai dia
sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa, aku melihat dama masuk keruangan
untuk beristirahat dama memandang kearahku ia tersenyum dan aku pun tersenyum
sambil melambaikan tangan pintu ruangan dama ditutup oleh suster aku berbalik
lalu duduk di kursi koridor rumah sakit aku duduk sambil membuka ponselku ibu
memberiku pesan kalau banyak rekan kampusku yang datang kerumah memberi kejutan
padaku namun aku tidak ada dirumah aku membalas pesan ibuku lalu aku masukan
kembali ponsel ke saku celana, aku diam dengan tatapan kosong rasanya aku mulai
mengantuk lalu aku tertidur dikursi hingga pagi hari. “miss wake up” terdengar
suara seorang wanita disampingku, aku tersadar lalu membuka mataku aku beranjak
sambil megucak mataku ternyata wanita yang tadi membangunkan ku adalah seorang
suster “I’m awake” teriakku pada suster itu, aku berdiri dan menengok ke pintu
ruangan dama terlihat dama masih tertidur aku memutuskan pergi keluar aku
berjalan keluar gedung rumah sakit mencari udara segar, aku diam ditaman tempat
kemarin aku dan dama bermain aku melihat bunga disekelilingku bermekaran dengan
warna yang sangat indah tiba-tiba saja ponselku berbunyi dan itu pesan dari
ibuku ia menyuruhku untuk segera pulang ibuku mengkhawatirkanku, aku pun harus
kembali masuk kuliah untuk menyelesaikan skripsiku, aku berlari menuju ruangan
dama untuk berpamitan, aku membuka pintu
ruangan lalu masuk kedalam dama ternyata sudah bangun “selamat pagi dama,
tante” ucapku sambil tersenyum “pagi raya” ucap dama dan ibunya, aku berjalan
kesamping dama lalu aku memegang tangan dama “aku harus kembali ke indonesia
masih ada urusan yang harus aku selesaikan disana, kamu harus kuat ya aku yakin
kamu pasti sembuh dan kita bisa bermain bersama lagi, jaga diri kamu baik-baik
ya.” seruku sambil bersedih karena harus meninggalkan dama yang sedang sakit. “iya
ray kamu hati-hati ya, aku pasti kuat aku akan sembuh agar aku bisa
bersama-sama denganmu lagi.” Ucap dama “iya aku pergi ya dama, aku janji aku
akan menemuimu lagi.” Seruku sambil tersenyum lalu memeluk dama aku berpamitan
dengan ibu dama rasanya berat sekali meninggalkan dama tetapi hal ini harus aku
lakukan aku pergi ke bandara menunggu giliran pesawatku take off aku memulai
perjalanku pulang ke indonesia.
Aku memulai aktivitasku
seperti biasa, saat ini aku sedang menyelesaikan skripsi untuk mendapat gelar
sarjana banyak waktu yang aku habis didepan leptop dam di perpustakaan aku
sangat ingin segera lulus dari bangku kuliah sehingga aku bisa pergi menemui dama
dan melihatnya sembuh aku benar-benar sangat bersemangat menjalani hari-hariku
ini. Lima bulan telah berlalu skripsiku sudah selesai aku hanya tinggal
memeriksa ulang tugas akhirku ini, ibu dan ayah sangat bangga padaku karena
sebentar lagi aku akan lulus, dosen pembimbingku memberiku arahan tentang
bagaimana menghadapi sidang skripsi nanti aku memberikan skripsiku untuk
dinilai, satu minggu kemudian hasil kelulusan sudah terpasang dimading kampus
dan ternyata aku LULUS dengan ipk sangat tinggi aku teriak sambi loncat-loncat
kegirangan aku sangat bahagia aku bisa menyelesaikan tugasku ini dengan hasil
yang sangat memuaskan, aku meberi tahu ibu dan ayah bahwa aku telah lulus
mereka berdua terlihat sangat senang juga bangga padaku bulan depan aku wisuda,
aku memutuskan untuk pergi ke singapura menemui dama aku pergi ke bandara lalu
membeli tiket aku duduk dibandara sambil menunggu jadwal keberangkatan pesawat
aku tidak sabar untuk bertemu dama aku yakin kalau dama sudah sehat kembali,
jadwal peswat sudah keluar aku memulai perjalanku ke singapura, sesampainya
disana aku pergi ke rumah sakit tempat dama dirawat saat sampai disana aku
berlari menuju keruangan dama sambil membawa bunga tetapi saat aku masuk lalu
membuka pintu ruangan dama tidak berada disana aku pergi mencari suster dan
bertanya dimana pasien yang bernama dama namun, suster itu menjawab bahwa dama
sudah tidak dirawat disana dia sudah dipulangkan ke indonesia karena dama sudah
meninggal satu minggu yang lalu aku kaget mendengar hal itu aku menjatuhkan
bunga yang aku pegang mataku melotot air mataku jatuh aku tidak percaya dengan
ucapan suster itu tapi ia membuktikannya dengan memperlihatkanku daftar pasien
meninggal satu minggu terakhir dan disitu tercantum nama dama yang meninggal
tepat dihari senin minggu lalu aku sangat tidak percaya dengan hal ini aku
berlari kencang menuju luar gedung rumah sakit aku berlari keluar mencari taksi
dan aku menemukan, aku menstop taksi tersebut lalu aku pergi ke bandara aku sepanjang
jalan aku menangis aku tidak percaya dama telah pergi meninggalkanku
selama-lamanya sesampainya dibandara aku langsung memesan tiket lalu aku
terbang dengan pesawat ke indonesia, setelah sampai aku langsung berlari
mencari taksi setelah itu aku meneruskan perjalananku kerumah dama saat aku
sampai disana banyak rangkaian bunga yang terpajang disekitar rumah dama itu
adalah rangkaian bunga ucapan duka cita atas kepergian dama aku berlari masuk
ke dalam rumah dama disana ada ibu dama yang memakai pakaian hitam duduk disofa
sambil memegang foto dama dirumah dama banyak orang yang sedang mengaji aku
berjalan menghampiri ibu dama lalu aku mengangis dihadapan ibu dama “raya”
teriak ibu dama yang terkejut “tante kenapa tidak memberi tahu ku tentang hal
ini kenapa tante kenapa!” teriakku sambil menangis kencang “maafkan tante ray,
ini pesan dari dama untuk tidak memberi tahu mu tentang kondisi dama sampai dia
meninggal.” Ucap ibu dama sambil menangis dihadapanku, ibu dama mengantarkanku
ke tempat peristirahatan terakhir dama disana aku menangis kencang sambil memegang
tanah makam dama aku menangis dan berteriak “dama jangan tinggalkan aku” aku
tak berhenti menangis ibu dama hanya berdiri sambil memegang pundakku berusaha
untuk menenangkanku namun aku tetap menangis sungguh aku tidak menyangka aku
harus kembali kehilangan seseorang yang aku sayangi setelah kejadian ini aku
tidak pernah lagi mencoba untuk mencintai dan menyayangi orang lain dama adalah
pria terakhir yang aku cintai, aku takut ketika aku mulai mencintai seseorang
lagi dia akan pergi meninggalkanku. Setiap hari aku datang ke makam dama sambil
membawa bunga ini yang selalu aku lakukan setiap harinya sampai akhirnya aku
harus pergi ke belanda untuk meneruskan pendidikan S2 disana selama hampir 4 tahun, aku pergi
meninggalkan dama “aku harus pergi cukup lama meninggalkanmu, kamu baik-baik ya
disana do’aku selalu menyertaimu dama, aku mencintaimu.” Ucapku sambil memegang
baru nisan dama, setelah itu aku berjalan pergi meninggalkan dama.
Ada
dua hal yang sangat berarti dalam hidup ini yang pertama yaitu cinta dan
kematian apabila kalian telah siap menerima itu semua berarti kalian sidah siap
dengan semua resiko yang akan kalian dapat.
Hidup
adalah sebuah pilihan, pilihan untuk bahagia atau sedih semua itu terjadi
bagaimana kalian menanggapi hidup ini.
--Tamat--
0 komentar:
Post a Comment