Oleh: Aditya Juliastuti.
Malam ini tepat di jam
terakhir ulang tahunku, aku masih disini. Duduk di ruangan sunyi ini, menunggu
kedatangan Ibu. Sesekali ku tatap layar ponselku untuk mengecek apakah ada
pesan dari Ibu atau tidak. Jawabannya adalah tidak. Ingin ku hubungi Ibu namun,
tak jadi. “Ah, mengapa Ibu belum pulang juga? Ibu belum mengucapkan selamat
ulang tahun padaku. Apa Ibu tidak ingat hari ini adalah hari ulang tahunku?”
gumamku sendirian. Rasa kesal dan cemas memenuhi perasaanku. Tak lama kemudian
terdengar suara pintu terbuka. Ternyata itu Ibu, pulang bersama lelaki itu
lagi. “Huh laki-laki itu lagi.” geramku dalam hati. Lalu Ibu duduk disampingku
dan mempersilahkan lelaki itu duduk.
“Assalamualaikum nak.
Selamat ulang tahun yang ke-17 ya. Anak Ibu sudah besar ternyata” ucap Ibu
sambil mengecup keningku. “Ibu punya hadiah spesial buat kamu Ra, kamu pasti
suka”. Ibu merogoh-rogoh ke dalam tasnya. “Ya ampun sepertinya hadiahnya
tertinggal di Restoran tadi. Mengapa Ibu bisa lupa ya?” terlihat raut menyesal
pada wajah Ibu dan lelaki itu menatap iba padaku. Rasa kesal ku sudah tak
tertahan lagi, semua ini begitu keterlaluan. Mengapa Ibu melakukan hal ini
padaku. Amarah ku pun meledak. “Aku benci Ibu!” tiba-tiba aku mengeluarkan
kata-kata seperti itu pada Ibu. “Mengapa Ibu begitu tega padaku di hari ulang
tahunku? Bahkan Ibu bukan orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun
padaku! Sekarang, Ibu malah pulang tengah malam begini dengan lelaki itu!”
omelku sambil menunjuk laki-laki di depanku yang mungkin umurnya lebih tua 3
tahun dengan Ibuku.“Hentikan Dera! Sikapmu itu sangat tidak sopan, Ibu tidak
pernah mengajarimu bersikap seperti itu! Maaf atas sikap putriku ya mas” Ibu
malah membentakku dan meminta maaf kepada lelaki itu. Aku beranjak dari kursi
dan hendak masuk ke kamar namun, aku malah menoleh lagi dan berkata “Ini semua
gara-gara kau laki-laki tak tahu diri. Ibu jadi tak sayang lagi padaku.
Sebaiknya sekarang kau pergi dan jangan ganggu kehidupan kami!”. “Cukup Dera!”
bentak Ibu padaku. Lalu aku segera masuk ke kamar dan membantingkan pintu.
Aku berbaring di tempat
tidur dan melirik jam di atas meja belajarku. Ternyata sudah lewat tengah
malam. Aku merenung diam dalam kesunyian malam. Apa perkataanku tadi sangat
keterlaluan? Sampai-sampai Ibu membentakku sebegitunya. Ah tidak, itu memang
pantas untuk laki-laki yang telah mengganggu ketentraman hidupku bersama Ibu.
Pikiranku jadi tak tentu. Aku membayangkan betapa bahagianya orang-orang yang
tinggal bersama kedua orang tuanya, bersama Ibu dan Ayah. Jika Ibunya sedang
sibuk, mereka bisa menghabiskan waktu bersama Ayahnya. Seorang anak perempuan
bersama Ayahnya, melakukan hal-hal yang asyik sampai yang ekstrim sekalipun ada
seorang Ayah yang menjaganya. Mungkin jika ada Ayah, tidak akan terjadi masalah
seperti tadi. Seorang Ayah pasti bisa menjaga keluarganya. Pikirku sambil
membayangkannya. Tanpa sadar air mataku jatuh “Uh... mengapa aku harus
bersedih? Toh aku punya Ibu yang sayang padaku. Mungkin Ibu masih sayang padaku...”
. Terdengar suara pintu kamarku terbuka. “Sayang maafkan Ibu nak, Ibu tidak
bermaksud untuk membentak-bentakmu...” itu suara Ibu, lalu Ibu duduk di atas
tempat tidurku. “Sudahlah bu, Dera capek. Dera mau istirahat” terdengar suaraku
yang serak, pasti Ibu tahu kalau aku habis menangis. “Dera Ibu minta maaf. Ibu
sangat sayang padamu. Jangan berpikir yang tidak-tidak, Pak Wiryo hanya
rekan kerja Ibu. Kami ditugaskan untuk menangani masalah perusahaan, itulah
sebabnya Ibu sering bersama Pak Wiryo” jelas Ibu panjang lebar sambil
mengelus-elus rambutku yang pendek ini.
Aku rindu saat-saat
seperti ini, sudah lama Ibu tak meluangkan waktunya untuk saling bertukar
cerita dan mencurahkan isi hati. Ibu lanjut berbicara “Sebenarnya Ibu telah
menyiapkan hadiah buat kamu, tetapi...”. “Sudah bu, tak apa. Aku tidak butuh
hadiah, aku hanya ingin dipeluk Ibu” ucapku menyela dengan manja. Aku bangkit
dari tempat tidur lalu Ibu memelukku dengan erat. “Ibu, apa aku masih pantas
berlaku seperti ini diusiaku yang sudah 17 tahun? Hihi” candaku sambil melepas
pelukan dari Ibu. “Ibu aku rindu Ayah. Apa Ayah juga rindu padaku? Mengapa dia
tak pernah datang untuk menengok kita?” ujarku dan menatap Ibu. “Ayahmu pasti
merindukanmu, mungkin dia hanya tidak punya waktu untuk berkunjung.” jelas Ibu
sambil menyembunyikan wajahnya. Aku tahu, Ibu sedih bila disinggung hal-hal
mengenai Ayah. Ibu dan Ayah sudah berpisah sejak aku baru berumur 3 tahun. Aku
tak mengerti apa yang terjadi saat itu dan aku tak mau bertanya kepada Ibu
mengapa mereka berpisah, karena aku takut membuat Ibu terlalu sedih. Tak
terasa, waktu berjalan cepat malam itu dan aku terlelap tidur di atas pangkuan
Ibu.
Pagi ini seperti pagi
biasanya. Aku terbangun karena mendengar merdunya kumandang adzan. Segera aku
bangun dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Terasa sangat berat
kelopak mataku untuk terbuka, ini gara-gara tidur lewat tengah malam.Namun, aku
harus bangun untuk shalat. Setelah selesai shalat aku bergegas mandi dan bersiap-siap
untuk pergi ke sekolah. Sekarang aku duduk di kelas 3 SMA Eidohills
International School. Ibu memilihkan sekolah itu untukku dengan alasan
sekolah itu merupakan sekolah unggul di Kota ini padahal aku menolak untuk
bersekolah disitu karena biayanya yang terbilang mahal. Setelah aku siap dan
melihat jam, “Ya ampun, aku hampir telat lagi!” dengan tergesa-gesa aku keluar
kamar. Ternyata di meja makan Ibu sudah menyiapkan sarapan untuk dibawa ke
sekolah. Ibu memang sudah mengerti dengan kebiasaanku, sambil memasukkan bekal
ke dalam tas aku berpamitan pada Ibu “Bu, Dera berangkat sekolah ya. Maaf hari
ini engga sarapan bareng lagi. Assalamualaikum” segera aku memakai sepatu dan
berangkat menggunakan motor matic yang sudah menemani
perjuanganku sekolah selama setahun ini. Sebenarnya aku belum punya SIM namun,
sekolah memperbolehkan siswanya membawa motor apabila memang diperlukan. Aku
melesat dengan maticku. Namun, tak disangka aku menyerempet seorang
bapak-bapak yang memiliki keterbatasan fisik, dia menggunakan tongkat dan
pakaian yang sangat lusuh. Segera aku turun dari motor dan menghampiri
bapak-bapak itu. “Maaf pak. Saya tidak sengaja, saya sedang terburu-buru. Apa
bapak baik-baik saja?” ucapku segera sambil membantu bapak-bapak itu berdiri.
“Tidak apa-apa nak, bapak yang sedang melamun sehingga tidak melihat jalanan.
Sudah kamu segera berangkat ke sekolah.” Bapak-bapak itu membetulkan topinya
yang lusuh. “Kalau begitu saya berangkat ya pak. Sekali lagi saya minta maaf.”
Sesampainya di sekolah, ternyata aku
datang terlambat. Terpaksa aku dihukum sebelum masuk kelas. Waktu di sekolah
berjalan lancar, aku dapat menerima pelajaran dengan baik sampai bel pulang
berbunyi. Setelah keluar kelas teman-teman menghampiriku “Dera besok kan hari
libur, kita main ke villanya Resi yuk! Tidak jauh dari kota ini kok”. “Iya Der,
sebelum kita fokus ke UN dan Universitas nih. Ikut ya...”. “Ayo Ra, main ke
villaku”ucap Resi dan teman-teman lainnya. “Hmm...bagaimana ya, aku harus
meminta izin dulu pada Ibuku.” “Siap Ra! Kamu minta izin dulu saja sama Ibumu.
Nanti kalau kamu mau ikut, kabari kita saja ya...”.
Tak terasa perjalanan
dari sekolah ke rumah yang berjarak lumayan jauh telah aku lewati. Sesampainya
di rumah ternyata terlihat mobil Ibu sudah ada di garasi. Berarti Ibu sudah
pulang. Tak biasanya Ibu pulang secepat ini. Segera ku parkirkan simatic dan
masuk ke rumah. “Assalamualaikum bu, Dera pulang” tak ada jawaban dari dalam
rumah. “Apa Ibu sedang di kamar?” gumamku dalam hati. Aku segera menuju kamar
Ibu. Terlihat Ibu di dalam kamar sedang memandangi sebuah kertas. Aku mengintip
dari pintu lalu masuk. “Ibu, Ibu sedang apa?” tanyaku penasaran dan ingin tahu
kertas apa itu. Ibu cepat-cepat memasukkan kertas itu ke dalam lacinya “Bukan
apa-apa Ra, itu cuma tagihan listrik”. “oh..” ujarku tak ingin terlalu
mempersoalkan hal itu, “Ibu tak seperti biasanya pulang secepat ini?”. “Iya,
kebetulan urusan di kantor sudah selesai jadi Ibu bisa pulang lebih cepat. Kamu
mau makan siang apa nih?”. “Apa saja bu, kan semua masakan Ibu enak.”
Di meja makan ini.
Akhirnya aku dan Ibu bisa makan bersama lagi. Ini terasa sangat istimewa
walaupun dengan lauk seadanya. “Oh iya bu, besok itu hari libur dan teman-teman
mengajakku untuk berlibur bersama mereka di villanya Resi. Apa aku boleh ikut
bu?” tanyaku, mengingat ajakan teman-teman di sekolah tadi. “Ya boleh dong,
anak Ibu kan sudah 17 tahun...” goda Ibu sambil mencubit pipiku. Kita tertawa
bersama di atas meja makan. Ibu yang seperti ini yang sangat aku rindukan.
Sudah lama sejak Ibu selalu bersama rekan kerjanya yang bernama Pak Wiryo, kita
tidak pernah makan bersama dan seakrab ini.
Hari liburan pun tiba.
Aku tidak mau terlambat pergi dan ditinggal oleh teman-teman. Itu sebabnya
setelah shalat aku langsung mandi dan sarapan. Untungnya Ibu sudah menyiapkan
roti bakar selai sarikaya kesukaanku dan segelas susu coklat hangat, menurutku
itulah sarapan yang paling nikmat. Sebelum pergi aku sudah menyiapkan segalanya
mulai dari obat sampai baju ganti. Jadi, setelah sarapan selesai aku tinggal
berpamitan pada Ibu dan menunggu teman-teman datang. “Ibu mau oleh-oleh apa?”
ucapku sambil memakai sepatu cats yang masih lumayan bagus.
“Memangnya kamu mau ke villa dimana Dera? Kan hanya beberapa kilometer saja
dari sini.” Jawab ibu. “Ya siapa tahu Ibu mau oleh-oleh khas Kota ini. Hihi”.
Tak lama setelah itu, teman-temanku datang dan mengajakku segera berangkat. “Bu
Dera pamit ya.”
Kami berangkat menuju
villa Resi menggunakan mobil mewah Ayahnya Sabil. Mobil ini melaju menuju
jalanan berbatu yang jauh dari hiruk-pikuk Kota. Sepanjang perjalanan kami
menyanyikan senandung-senandung ceria ala liburan. Saat mulai
memasuki kawasan villa ada banyak villa-villa mewah di pinggir-pinggir jalan.
Lalu aku juga melihat sebuah villa yang sederhana namun, tidak terkesan
sederhana. Aku menyukai villa itu, mungkin Ibuku juga. Di villa itu terdapat
tulisan “Disita”, sayang sekali villa itu sudah disita mungkin pemiliknya
memiliki masalah dengan angsurannya, pikirku. Saat aku memperhatikan villa itu,
aku melihat seorang bapak-bapak sedang tergeletak di depan gerbangnya. “Ya
ampun!” seruku tak sadar. “Kenapa Ra? Ada yang tertinggal?” tanya Sabil dibalik
kemudinya. “Ah tidak...tidak apa-apa kok Bil” jawabku, aku tidak menceritakan
apa yang telah aku lihat kepada teman-temanku karena mungkin mereka tidak akan
mempedulikannya. “Nah akhirnya sampai nih di Villa Papaku. Selamat datang
teman-teman” seru Resi sambil menunjukkan villa Papanya yang
super mewah.
Aku masuk ke villa Resi
namun, hatiku tidak tenang. Aku selalu terpikirkan tentang bapak-bapak yang aku
lihat tadi. Apa aku tega membiarkannya tidur di tempat seperti itu? Hatiku
menjadi sangat tidak tenang. Setelah Resi mengajak berkeliling villanya ini
lalu dia mengajak untuk melakukan permainan di taman. “Hei teman-teman ke taman
yuk. Kita main Truth or Dare”.
“Ayo-ayo” saut teman-teman yang lain. “Res boleh aku istirahat disini dulu?
Kayanya aku masuk angin.” Ucapku pada Resi dan teman-teman. “Oh gitu Ra? Ya
sudah kamu istirahat dulu saja di kamar yang sebelah sana ya.” Resi menunjukkan
kamar yang terletak di sudut depan ruangan ini.
Aku beristirahat di
kamar yang telah ditunjukkan oleh Resi. Karena bosan hanya tidur-tiduran saja,
aku menengok ke jendela. Pemandangan dari kamar ini begitu menakjubkan.
Seolah-olah sangat jauh dari perkotaan. Pandanganku menyapu setiap sudut
kawasan ini. Ku lihat lagi bapak-bapak yang tadi tidur di depan gerbang villa
sedang merintih dan meronta-ronta. Aku tak sanggup lagi, aku tak tega. Segera
aku berlari keluar dan menghampiri bapak-bapak itu.
Setelah aku
menghampirinya, ternyata bapak itu adalah bapak-bapak yang waktu itu tidak
sengaja terserempet olehku. “Bapak? Mengapa bapak ada disini? Bapak kan yang
waktu itu tidak sengaja terserempet oleh saya di jalan kusuma Kota?” tanyaku
sambil terus memperhatikan raut wajahnya. Sepertinya bapak ini lapar dan dia merasa
sakit pada bagian dadanya, mungkin dia kedinginan. “Apa bapak lapar? Mengapa
bapak tak pulang ke rumah bapak?”tanyaku lagi. Bapak itu tidak menjawab dan
hanya menundukkan kepala sambil memegang dadanya.“Bapak ikut saja dengan saya
ya. Mungkin saya punya sedikit makanan dan obat untuk bapak”. Aku mengajak
bapak ini ke villa Resi dan berharap Resi tak mengetahui bahwa aku membawa
orang lain ke villanya. Setelah sampai di depan gerbang villa “Bapak bisa
tunggu sebentar disini, saya akan mengambilkan makanan dan obatnya di dalam.”
Aku segera masuk dan merogoh-rogoh tas ranselku untuk mengambil roti, obat dan
jaket. Setelah aku memberikan itu semua pada bapak itu, dia terlihat sangat
senang dan segera melahap rotinya. “Ah kasihan sekali, dia sangat lapar”
gumamku dalam hati. “Apa bapak sudah merasa membaik? Kenalkan nama saya Dera.
Nama bapak siapa?” tanyaku setelah bapak ini habis melahap rotinya. “Terima
kasih nak. Nama bapak Handojo. Dera ya? Oh Dera” jawab bapak itu sambil memasukkan
obat yang aku beri ke dalam tas karungnya.
“Dera... Dera...” suara
teman-teman terdengar dari dalam, sepertinya mereka mencariku. “Kalau begitu
senang berkenalan dengan bapak. Maaf saya harus ke dalam” ucapku mengakhiri
percakapan dengan bapak itu. “Iya nak, terima kasih atas pertolongannya. Kamu
memang putri yang baik, orang tuamu pasti bangga” ucap Bapak Handojo sambil
pergi tertatih-tatih berjalan menggunakan tongkatnya.
Aku segera masuk dan menghampiri
teman-temanku. Seharian di villa Resi, bersenang-senang dan bermain sangat
mengasyikan hingga waktu tak terasa sudah hampir malam. Kami segera pulang
karena besok harus sekolah. Pengalaman hari ini sungguh mengesankan. Dalam
perjalanan pulang aku melihat Pak Handojo melambaikan tangannya sambil tersenyum
ke arah mobil Sabil yang sedang melaju ini. Mungkin ia ingin mengucapkan
selamat tinggal kepadaku. Tak ada yang melihatnya, kecuali aku. Aku pun
tersenyum dan melambaikan tangan. Entah mengapa perasaanku menjadi tenang
setelah melihat Pak Handojo tersenyum seperti itu.
Sesampainya di rumah,
aku menceritakan semua pengalamanku kepada Ibu termasuk pertemuanku dengan Pak
Handojo “Ibu aku bertemu dengan seorang bapak-bapak yang sedang sakit dan
kelaparan tertidur di depan sebuah villa yang sudah disita. Aku sangat kasihan
melihat keadaan bapak-bapak itu bu”. Raut wajah Ibu tiba-tiba berubah. “Lalu
apa yang kamu lakukan nak?” tanya Ibu penasaran. “Aku memberinya roti, obat,
dan jaketku bu. Tak apa kan? Oya nama bapak itu adalah Pak Handojo” jelasku
semangat. “Apa? Pak Handojo?” tanya Ibu sambil membuka lacinya dan
memperlihatkan foto kepadaku. Disitu tampak seorang laki-laki yang tampan dan
berwibawa, menggunakan jas dan rapih. “Maksud Ibu?” tanyaku tak mengerti dengan
pertanyaan Ibu sebelumnya dan terus menatap foto yang Ibu tunjukkan. “Pak
Handojo ini? Yang ada di foto ini?” tanya Ibu penasaran. Lalu aku mengambil
foto itu dan memperhatikan foto itu benar-benar. Ternyata ya, laki-laki dalam
foto ini adalah Pak Handojo yang telah aku temui siang tadi. “Ya bu, wajahnya
seperti ini. Memangnya ini siapa?” tanyaku lagi pada Ibu. Wajah Ibu kini telah
berlinang air mata lalu Ibu menjawab “Dia Ayahmu nak”. Deg. Perasaanku jadi
bingung untuk mencerna semua ini. Jadi laki-laki yang aku tolong itu adalah
Ayahku. Dialah orang yang ingin aku temui selama ini. “Bu kita harus menemuinya,
kita harus mengajaknya tinggal bersama kita” ajakku pada Ibu tak sabar. “Iya
nak, kita harus lakukan itu”.
Lalu malam-malam aku
bersama Ibu mencari Ayah di kawasan villa Resi. Namun setelah bertanya-tanya
dan mencari-cari ternyata tidak ditemukan juga. Akhirnya aku mengajak Ibu
menuju ke villa yang telah disita, tempat dimana Dera melihat Ayahnya yang
merintih kesakitan tadi siang.
Lalu Dera melihat laki-laki lusuh yang menggunakan tongkat sedang berjalan dan
menggunakan jaket Dera. “Itu Ayah bu, itu Ayah” seruku sambil menunjuk Ayah.
“Mas Handojo?” teriak Ibu tak percaya, air mata Ibu kembali berlinangan. Ayah
menoleh dan melihat kearah kami sambil berusaha berlari menggunakan tongkatnya
untuk menghindari aku dan Ibu. Namun,
sayang Ayah malah terjatuh. Aku dan Ibu segera menghampiri Ayah. Ternyata Ayah
sudah tak sadarkan diri, segera aku dan Ibu membawanya ke klinik yang tidak
jauh dari tempat tersebut.
Aku dan Ibu cemas
menunggu kabar dari dokter yang sedang memeriksa Ayah. Aku takut. Perasaanku
sangat tak tenang. Begitu pula Ibu, terlihat diraut wajahnya bahwa ia menahan
air mata. Tangannya pun bergetar. Aku mencoba menenangkan diri dengan memeluk
Ibu. Lalu
dokter yang memeriksa
Ayah keluar
dari ruangan pemeriksaan Ayah. “Dok bagaimana keadaan suami saya? Apa dia
baik-baik saja?” tanya Ibu segera sambil menahan air matanya. “Beruntungnya
suami anda dibawa pada waktu yang tepat. Jadi kami berhasil memberikan
pertolongan.” jelas dokter. “Jadi saya boleh melihat keadaan Ayah sekarang
dok?” tanyaku penuh harap. “Ya tentu saja, silahkan. Saya permisi.” Dokter lalu
meninggalkan kami.
Di dalam ruangan putih
ini, terlihat Ayah yang sangat lemah tak berdaya. Aku tak tega melihat keadaan
Ayah yang seperti itu. “Ayah...apa Ayah baik-baik saja?” tanyaku sambil
menghampiri dan mendekap tangannya yang lemah. Terlihat raut wajah Ayah yang
sedih. “Mas, kemana saja kau selama ini? Aku dan Dera selalu menanti
kedatanganmu. Kau berjanji akan kembali dan hidup bahagia dengan anak kita,
Dera.” ucap Ibu. Air mata Ayah ternyata sudah tak dapat terbendung lagi. Air
matanya mengalir. “Maafkan aku, selama ini aku telah menyusahkanmu dan anak
kita, Dera. Aku tak bisa pulang dengan keadaan seperti ini. Tak punya pekerjaan
dan memiliki tubuh yang cacat. Terlebih lagi aku tidak bisa membahagiakan
kalian. Maafkan aku say...” belum sempat Ayah selesai berbicara, dia telah
menutup kedua matanya dan menghembuskan nafas terakhir.
Di ruangan sunyi ini.
Di tempat yang sudah tak asing lagi, aku terbungkam dan hanya bisa berkata
dalam benak. Waktu bersama orang yang ku sayangi begitu berharga, terutama
dirimu, Ayah. Mungkin aku tak sempat merasakan indahnya kasih sayang dari
seorang Ayah sampai pada usiaku yang ke 17 ini. Namun aku yakin Ayah tetaplah
Ayah yang selalu ada dihatiku. Dan untuk Ayah yang tercinta, semoga engkau
menemukan kebahagiaan di surga. Selamat tinggal, Nahkoda.
--Tamat--
0 komentar:
Post a Comment