17 Jan 2016

Negeri Segudang Janji

Oleh: Wahyu Nurhadi.


Matahari tepat di ubun-ubun ketika aku tiba di negeri segudang janji. Tidak seperti datang ke negeri asing lainnya, ketika tiba di bandara negeri segudang janji, tidak diperiksa atau ditanya identitas. Petugas lebih banyak bertanya soal janji.
“Janji mau bertemu dengan siapa?”
“Presiden”
“Pasti anda seorang artis.”
“Saya seorang wartawan.”
“Ooo. Pasti wartawan infotaiment.”
“Kok tahu?”
“Soalnya yang akan Anda temui seorang Presiden”
“Memangnya ada hubungan apa antara pekerjaan saya denganjabatan Presiden?”
“Dinegeri kami, entah itu Presiden, Gubernur, ataupun Bupati pasti artis.”
“Menteri-menterinya juga?”
“Belum. Dimana anda mengenal Presiden kami?”
“Dia sangat populer di negeri saya. Saya mengirim surat permohonan untuk mewawancarai dia. Dan dia membalasnya dengan simpatik. Saya diminta datang langsung ke rumahnya. Hari dan jamnya dia tentukan. Bahkan dia mengirim semua keperluan saya untuk datang ke sini.”
Petugas manggut-manggut sambil tersenyum. Ia memberi kartu tanda pengenal, tulisannya sesuai tujuan “Janji bertemu dengan Presiden.” Jika ditanya oleh petugas, lalu menjawab “Tidak ada janji”, akan didenda dengan uang, jumlahnya sesuai dengan janji.
***
Untuk menuju tempat kediaman Presiden tidak terlalu sulit sebab ada taksi khusus yang mengantar langsung kerumah pejabat. Sepanjang jalan aku sangat terpesona dengan suasana kota yang nyaman. Tidak ada kemacetan karena kendaraan yang lalu-lalang bergitu teratur. Gedung-gedung memiliki bentuk arsitektur yang sama. Tidak rapat, tidak padat. Sepanjang jalan dipagari pepohonan rindang.
Begitu bertatap muka dengan Presiden, aku merasakan kehangatan sambutan seorang pejabat pemerintah yang menghargai dan menepati janji.
“Aku tinggalkan semua kegiatan karena hari ini aku sudah berjanji akan bertemu dengan anda,” kata Presiden.
“Begitu istimewakah aku?” sahutku.
“Karena aku yang mengundang, maka anda adalah tamu istimewa”
Aku diajak duduk di halaman belakang yang rimbun pepohonan. Berbagai macam tanaman tumbuh subur.
“Luar biasa. Rupanya anda sangat menyukai beragam tanaman, buah-buahan, bunga dan sayuran.” sahutku.
“Dinegeri kami, semua pejabat dan rakyatnya sama-sama terikat janji untuk memelihara dan melestarikan lingkungan, maka menanam tumbuh-tumbuhan di setiap rumah wajib hukumnya.”
“Jadi setiap rumah harus ada tanaman?”
“Ya setiap rumah harus punya halaman, dan halaman itu harus ditanami pepohonan atau tumbuh-tumbuhan.”
“Bagaimana kalau rumahnya kecil?”
“Nanti anda akan lihat sendiri, disemua kompleks perumahan, selalu ada tumbuh-tumbuhan, disetiap jalan selalu berjejer pepohonan. Lahan perumahan, lahan bengunan industri dan perusahaan, semua mesti sesuai rencana tata ruang. Tak ada yang bisa berlaku semena-mena atau memanfaatkan pengaruh jabatan, sebab payung hukumnya jelas. Tidak ada campur aduk, misalnya di kawasan permukiman tak akan ada perusahaan atau sebaliknya. Sawah dan ladang dilarang dijadikan tempat pemukiman atau bangunan apapun. Disini semua memiliki kawasannya masing-masing.”
“Termasuk pedagang kaki lima?”
“Ya. Orang yang akan berbelanja ke kaki lima, bisa langsung datang ke kawasan mereka.”
“Itu yang menyebabkan setiap perjalanan menjadi lancar dan bertemu dengan siapapun bisa tepat waktu?”
“Ya. Jalan tak akan padat karena jumlah kendaraan pribadi dibatasi. Setiap orang hanya boleh memiliki satukendaraan. Kendaraan umum yang ada dikota hanya bis, angkutan kota dan kereta api. Trotoar diperlebar supaya pejalan kaki merasa nyaman.”
“Tak ada kejahatan?”
“Ada tapi jarang. Semua sudah hidup makmur. Itu yang membuat rakyat tenteram dan lebih penting, siapapun akan berpikir dua kali untuk melakukan kejahatan, sebab hukum diberlakukan dengan tegas.”
“Di negeri lain, janji itu selalu dianggap sebagai suatu taktik cari simpati. Tidak ditepati pun tak ada sanksi.”
“Dinegeri kami, masyarakatnya paham akan resiko sebuah janji. Jika mengabaikan janji, maka bukan hanya dosa menurut ajaran agama, tapi juga akan membuat kehilangan harga diri.”
“Pernahkan anda merasa tertekan dengan janji yang pernah diucapkan ? Misalnya takut tidak bisa menepatinya?”
“Tidak. Janji itu keluar dengan rasa tanggung jawab, dengan ukuran kemampuan bisa mewujudkan. Bukan janji muluk setinggi gunung, tetapi sulit untuk dijangkau atau mustahil dilaksanakan. Yang paling mudah tetapi hebat godaaannya, misalnya janji untuk tidak korupsi. Padahal janji seperti itu kalau dilaksanakan akan menyelamatkan kita dari siksa dunia dan akhirat. ”
“Seorang pelayan datang menghidangkan buah-buahan segar.”
“Boleh dicoba. Ini bukan dibeli di toko, tetapi diambil langsung dari pohonnya.”
Aku termangu sesaat. Aku benar-benar seperti berada di negeri impian. Negeri yang subur, makmur, aman, sejahtera, hanya karena setia untuk menepati janji.
***
Selama seminggu, aku diajak berkunjung ke berbagai daerah. Tidak ada penyambutan yang berlebihan, Presiden hanya didampingi dua ajudan. Justru lebih banyak wartawan medai cetak dan elektronik karena setiap kunjungan ke berbagai daerah harus diberitakan secara luas. Ia menyapa penduduk dengan akrab, bahkan menginap di rumah penduduk, mendengarkan aspirasi mereka, lalu berbaur dengan mereka.
Tebaran janji pun bersahaja, tidak muluk-muluk. Keluhan rakyat dicatat. Umumnya tak ada keluhan yang berarti karena penduduk hidup makmur dengan lahan garapan masing-masing. Ketika saya ikut menginap di rumah penduduk, saya disuguhi makan hasil dari tanaman yang mereka miliki.  Tidak ada makanan asing.
“Bahkan kita banyak mengekspor hasil pertanian ke beberapa negara. Bencana alam yang kini menghantui beberapa negara juga jarang terjadi di negeri kami. Mungkin karena alamnya terpelihara, agama dijalankan dengan benar. Maka agama menjadi rahmat bagi semesta alam, moral atau budi pekerti menjadi landasan utama, orang berbuat jahat pun akan berpikir berulang kali.”
Yang menarik di negeri Segudang Janji ini ialah tidak ada partai politik. Calon pemimpin akan muncul dengan sendirinya, sebab di usulkan oleh rakyat. Artis yang terpilih menjadi pejabat bukan karena popularitasnya, tetapi karena kemampuan dan jasanya kepada rakyat. Jarang ada yang ngotot ingin jadi pemimpin apabila meras tak dipilih oleh rakyat. Segala bentuk kemaksiatan hampir tidak ada, sebab semua warga terikat kepada janji dan bagi yang melanggar hukumannya sudah jelas.
“Sekali kita berbuat salah, maka rakyat yang akan menuntut kita”.
***
Ketika hendak berpisah dibandara, Presiden memelukku, setelah itu menepuk pundakku.
“Maukah anda berjanji ?”
“Berjanji?”
“Ya. Berjanji. Ceritakanlah pada rakyat di negeri anda tentang keadaan negeri kami yang anda lihat apa adanya. Kami ingin semua negeri tahu bahwa kejayaan dan kemakmuran sebuah negeri apabila negeri itu bisa mandiri dan setia menjunjung harga diri. Dengan begitu, kita tidak bergantung kepada negera lain.”
“Kenapa mesti berjanji seperti itu?”
“Karena aku sangat sedih bila mendengar ada negeri yang alamnya melimpah ruah, tapi masih banyak rakyatnya yang menderita. Apalagi kalau kekayaan alam itu dikelola oleh negeri asing. Disini rakyat patuh memelihara alam, sebab alam adalah sumber kehidupan.”
“Baiklah. Aku berjanji.”
Presiden tersenyum. “Tolong sampaikan kepada para pemimpin anda, kalau mau hidup tenang, kalau hidup ingin bermanfaat, jangan sekali-kali melanggar janji. Dan utamakanlah untuk berjanji mengabdi kepada rakyat. Setiap janji untuk mengabdi, untuk berbakti, jika ditepati oleh setiap warga, entah itu pejabat atau masyarakat, maka akan membuat sebuah negeri menemukan jati diri.”
Aku menganggukan kepala.Akan tetapi di negeriku, banyak yang mengumbar janji, dan janji –janji itu hanya janji belaka .

--Tamat--

0 komentar:

Post a Comment