Oleh: Wahyu Nurhadi.
Matahari tepat di
ubun-ubun ketika aku tiba di negeri segudang janji. Tidak seperti datang ke
negeri asing lainnya, ketika tiba di bandara negeri segudang janji, tidak
diperiksa atau ditanya identitas. Petugas lebih banyak bertanya soal janji.
“Janji mau bertemu
dengan siapa?”
“Presiden”
“Pasti
anda seorang artis.”
“Saya
seorang wartawan.”
“Ooo.
Pasti wartawan infotaiment.”
“Soalnya
yang akan Anda temui seorang Presiden”
“Memangnya ada hubungan
apa antara pekerjaan saya denganjabatan Presiden?”
“Dinegeri kami, entah
itu Presiden, Gubernur, ataupun Bupati pasti artis.”
“Menteri-menterinya
juga?”
“Belum.
Dimana anda mengenal Presiden kami?”
“Dia sangat populer di negeri saya. Saya mengirim
surat permohonan untuk mewawancarai dia. Dan dia membalasnya dengan simpatik.
Saya diminta datang langsung ke rumahnya. Hari dan jamnya dia tentukan. Bahkan
dia mengirim semua keperluan saya untuk datang ke sini.”
Petugas manggut-manggut sambil tersenyum. Ia memberi
kartu tanda pengenal, tulisannya sesuai tujuan “Janji bertemu dengan Presiden.”
Jika ditanya oleh petugas, lalu menjawab “Tidak ada janji”, akan didenda dengan
uang, jumlahnya sesuai dengan janji.
***
Untuk menuju tempat kediaman Presiden tidak terlalu
sulit sebab ada taksi khusus yang mengantar langsung kerumah pejabat. Sepanjang
jalan aku sangat terpesona dengan suasana kota yang nyaman. Tidak ada kemacetan
karena kendaraan yang lalu-lalang bergitu teratur. Gedung-gedung memiliki
bentuk arsitektur yang sama. Tidak rapat, tidak padat. Sepanjang jalan dipagari
pepohonan rindang.
Begitu bertatap muka dengan Presiden, aku merasakan
kehangatan sambutan seorang pejabat pemerintah yang menghargai dan menepati
janji.
“Aku tinggalkan semua kegiatan karena hari ini aku
sudah berjanji akan bertemu dengan anda,” kata Presiden.
“Begitu istimewakah aku?” sahutku.
“Karena aku yang mengundang, maka anda adalah tamu
istimewa”
Aku diajak duduk di halaman belakang yang rimbun
pepohonan. Berbagai macam tanaman tumbuh subur.
“Luar biasa. Rupanya anda sangat menyukai beragam
tanaman, buah-buahan, bunga dan sayuran.” sahutku.
“Dinegeri kami, semua
pejabat dan rakyatnya sama-sama terikat janji untuk memelihara dan melestarikan
lingkungan, maka menanam tumbuh-tumbuhan di setiap rumah wajib hukumnya.”
“Jadi setiap rumah
harus ada tanaman?”
“Ya setiap rumah harus
punya halaman, dan halaman itu harus ditanami pepohonan atau tumbuh-tumbuhan.”
“Bagaimana kalau
rumahnya kecil?”
“Nanti anda akan lihat
sendiri, disemua kompleks perumahan, selalu ada tumbuh-tumbuhan, disetiap jalan
selalu berjejer pepohonan. Lahan perumahan, lahan bengunan industri dan
perusahaan, semua mesti sesuai rencana tata ruang. Tak ada yang bisa berlaku
semena-mena atau memanfaatkan pengaruh jabatan, sebab payung hukumnya jelas.
Tidak ada campur aduk, misalnya di kawasan permukiman tak akan ada perusahaan atau
sebaliknya. Sawah dan ladang dilarang dijadikan tempat pemukiman atau bangunan
apapun. Disini semua memiliki kawasannya masing-masing.”
“Termasuk pedagang kaki
lima?”
“Ya. Orang yang akan
berbelanja ke kaki lima, bisa langsung datang ke kawasan mereka.”
“Itu yang menyebabkan
setiap perjalanan menjadi lancar dan bertemu dengan siapapun bisa tepat waktu?”
“Ya. Jalan tak akan
padat karena jumlah kendaraan pribadi dibatasi. Setiap orang hanya boleh
memiliki satukendaraan. Kendaraan umum yang ada dikota hanya bis, angkutan kota
dan kereta api. Trotoar diperlebar supaya pejalan kaki merasa nyaman.”
“Tak ada kejahatan?”
“Ada tapi jarang. Semua
sudah hidup makmur. Itu yang membuat rakyat tenteram dan lebih penting,
siapapun akan berpikir dua kali untuk melakukan kejahatan, sebab hukum
diberlakukan dengan tegas.”
“Di negeri lain, janji
itu selalu dianggap sebagai suatu taktik cari simpati. Tidak ditepati pun tak
ada sanksi.”
“Dinegeri kami,
masyarakatnya paham akan resiko sebuah janji. Jika mengabaikan janji, maka
bukan hanya dosa menurut ajaran agama, tapi juga akan membuat kehilangan harga
diri.”
“Pernahkan anda merasa
tertekan dengan janji yang pernah diucapkan ? Misalnya takut tidak bisa
menepatinya?”
“Tidak. Janji itu
keluar dengan rasa tanggung jawab, dengan ukuran kemampuan bisa mewujudkan.
Bukan janji muluk setinggi gunung, tetapi sulit untuk dijangkau atau mustahil
dilaksanakan. Yang paling mudah tetapi hebat godaaannya, misalnya janji untuk
tidak korupsi. Padahal janji seperti itu kalau dilaksanakan akan menyelamatkan
kita dari siksa dunia dan akhirat. ”
“Seorang pelayan datang
menghidangkan buah-buahan segar.”
“Boleh dicoba. Ini bukan
dibeli di toko, tetapi diambil langsung dari pohonnya.”
Aku termangu sesaat.
Aku benar-benar seperti berada di negeri impian. Negeri yang subur, makmur,
aman, sejahtera, hanya karena setia untuk menepati janji.
***
Selama seminggu, aku
diajak berkunjung ke berbagai daerah. Tidak ada penyambutan yang berlebihan,
Presiden hanya didampingi dua ajudan. Justru lebih banyak wartawan medai cetak
dan elektronik karena setiap kunjungan ke berbagai daerah harus diberitakan
secara luas. Ia menyapa penduduk dengan akrab, bahkan menginap di rumah
penduduk, mendengarkan aspirasi mereka, lalu berbaur dengan mereka.
Tebaran janji pun
bersahaja, tidak muluk-muluk. Keluhan rakyat dicatat. Umumnya tak ada keluhan
yang berarti karena penduduk hidup makmur dengan lahan garapan masing-masing.
Ketika saya ikut menginap di rumah penduduk, saya disuguhi makan hasil dari
tanaman yang mereka miliki. Tidak ada
makanan asing.
“Bahkan kita banyak
mengekspor hasil pertanian ke beberapa negara. Bencana alam yang kini
menghantui beberapa negara juga jarang terjadi di negeri kami. Mungkin karena
alamnya terpelihara, agama dijalankan dengan benar. Maka agama menjadi rahmat bagi
semesta alam, moral atau budi pekerti menjadi landasan utama, orang berbuat
jahat pun akan berpikir berulang kali.”
Yang menarik di negeri
Segudang Janji ini ialah tidak ada partai politik. Calon pemimpin akan muncul
dengan sendirinya, sebab di usulkan oleh rakyat. Artis yang terpilih menjadi pejabat
bukan karena popularitasnya, tetapi karena kemampuan dan jasanya kepada rakyat.
Jarang ada yang ngotot ingin jadi pemimpin apabila meras tak dipilih oleh
rakyat. Segala bentuk kemaksiatan hampir tidak ada, sebab semua warga terikat
kepada janji dan bagi yang melanggar hukumannya sudah jelas.
“Sekali kita berbuat
salah, maka rakyat yang akan menuntut kita”.
***
Ketika hendak berpisah dibandara,
Presiden memelukku, setelah itu menepuk pundakku.
“Maukah anda berjanji
?”
“Berjanji?”
“Ya. Berjanji. Ceritakanlah
pada rakyat di negeri anda tentang keadaan negeri kami yang anda lihat apa
adanya. Kami ingin semua negeri tahu bahwa kejayaan dan kemakmuran sebuah
negeri apabila negeri itu bisa mandiri dan setia menjunjung harga diri. Dengan
begitu, kita tidak bergantung kepada negera lain.”
“Kenapa mesti berjanji
seperti itu?”
“Karena aku sangat
sedih bila mendengar ada negeri yang alamnya melimpah ruah, tapi masih banyak
rakyatnya yang menderita. Apalagi kalau kekayaan alam itu dikelola oleh negeri
asing. Disini rakyat patuh memelihara alam, sebab alam adalah sumber
kehidupan.”
“Baiklah. Aku
berjanji.”
Presiden tersenyum. “Tolong
sampaikan kepada para pemimpin anda, kalau mau hidup tenang, kalau hidup ingin
bermanfaat, jangan sekali-kali melanggar janji. Dan utamakanlah untuk berjanji
mengabdi kepada rakyat. Setiap janji untuk mengabdi, untuk berbakti, jika
ditepati oleh setiap warga, entah itu pejabat atau masyarakat, maka akan
membuat sebuah negeri menemukan jati diri.”
--Tamat--
0 komentar:
Post a Comment