18 Jan 2016

Dimensi Waktu

Oleh: Rudiyansah.

Tett…tet suara bel berbunyi, yang menandakan Dani memasuki kelas sekaligus sekolah barunya. Disini berbeda sekali dengan keadaan di desa. Disini merupakan sekolah terbaik di kota, yang mayoritas dihuni anak dari orang – orang kaya. Yang dianggap Dani mereka tidak mau berteman dengan nya, yang berlatar belakang orang desa. Namun dugaan Dani salah besar, ternyata tidak semua orang kaya itu sombong. “Hai apa kabar?, boleh kenalan?” tanya seseorang yang tiba-tiba menghampirinya dari arah belakang. “ Alhamdulillah baik, iya boleh aku Dani.”  Jawab Dani. “oh Dani yah, namaku Riki, salam kenal.” Balasnya. Setelah itu terjadi percakapan antara keduanya, yang membuat keduanya akrab.

Hari-hari berikutnya, Dani mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di kota, walau harus pulang pergi dengan jarak yang jauh. Suatu pagi yang hujan, ia bingung karena dia harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk mencapai ke jalan kota. Sedangkan ia hanya menggunakan sepedah untuk menempuhnya. Namun karena ia telah berjanji kepada ayahnya yang telah meningggal dunia untuk bersekolah sungguh-sungguh dan mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter, ia pun akhirnya memaksakan diri untuk berangkat. “ bu aku berangkat dulu.” Sahut dani, “ Diluar masih hujan nak, nggak tunggu hujannya reda dulu?” Tanya ibunya. “kalau nunggu hujan reda, nantinya telat bu.” Jawab dani sambil memasukan seragamnya ke tas pelastik agar seragamnya tidak basah.
Sesampainya di jalan kota, ia bergegas ke wc umum untuk mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Dan menitipkan sepedahnya di pedagang yang sudah ia kenal. Di sekolah dia ditertawakan oleh teman-temannya karena menggunakan sepatu yang dekil dan basah. Namun Dani tidak memperdulikannya, karena tujuannya ke sekolah bukan untuk bergaya dan mendengarkan celotehan-celotehan yang tidak berguna baginya. Namun tidak semua teman temannya mengejeknya. Hari-hari berikutnya Dani menjadi orang yang dikenal disekolah karena di sebut si Dekil.
Hari itu adalah pelajaran Biologi dimana akan dibuat kelompok penelitian tentang ekosistem di desa. Di sana Dani satu kelompok dengan Riki dan Tasya. Yang akan meneliti ekosistem di desa Dani. Keesokan harinya mereka pergi ke rumah Dani untuk mempelajari ekosistem di desa. “wah desa kamu sejuk juga yah…” sahut Tasya, “ alhamdulillah warga di sini masih menjaga kebersihan lingkungannya…” jawab Dani,” adeuh……………. adeuh………..” potong Riki. “wus apa sih rik” balas Dani, dan tasya pun tersenyum malu. Setelah itu mereka melihat ekosistem yang ada di desa Dani, pertama mereka berkeliling di daerah persawahan yang padinya mulai merunduk dan kekuning - kuningan. Disana mereka melihat banyak hewan – hewan yang berkerialan di area  sawah itu. Tiba-tiba terlihat seekor ular yang muncul dihadapan mereka, yang membuat semuanya terkejut. Dan Tasya pun berteriak ketakutan. “oh jangan khawatir, kalau kita tidak mengganggunya ular itu tidak akan menggnggangu kita.” Ucap Dani. “sebaiknya kita  kembali ke rumah kamu saja Dan” sahut Riki. Akhirnya mereka pun menghentikan penelitian dan kembali ke rumah Dani.
Sesampainya di rumah Dani, sudah tampak makanan yang telah disiapkan oleh ibu Dani.”maaf nak Riki dan nak Tasya ibu tidak bisa memberikan lebih” sahut ibu dani, “ nggak apa-apa bu, maaf juga kami sudah merepotkan ibu” jawab Tasya dan Riki. “ ya tidak apa apa, silahkan makan dulu” jawab ibu Dani. Setelah mereka makan Riki dan Tasya pun pulang. Ke esokan harinya di sekolah mereka berkumpul kembali dan menceritakan pengalaman dan kejadian yang mereka alami di desa Dani. Dan mereka pun tertawa karena mengingat banyak kejadian yang menyenangkan bagi mereka. Disana mulai timbul rasa-rasa yang aneh ketika Dani melihat Tasya, Tasya semakin perhatian dengannya.  Tet…….. tetttt….. bel pun berbunyi, mereka pun masuk kelas, dan pada hari ini adalah waktu persentasi tentang hasil penelitian mereka tentang ekosistem di Desa. Walau kemarin penelitiannya tidak sukses, dan sudah bisa menanganganinya karena dia sudah tau seluk beluk desanya. Dani pun termasuk anak yang pintar dan Pandai bicara. “wah Dan penelitian kamu bagus juga” timpa ibu Anti guru biologi nya. “nggak ko bu saya cuma membicarakan apa adanya” jawab Dani. “memang Dani pandai bicara ko bu” balas Tasya yang ada di sampingnya. “ah Tasya bisa saja, kamu….” Balas Dani. Di sana ternyata ada yang diam-diam memperhatikan Dani, namanya Rani. Yang juga memuji Dani sesudah persentasi itu.
Di pagi hari yang cerah dimana pada hari itu adalah hari ulang tahun Tasya yang ke 16. Dan akan di adakan acara perayaan ulang tahun Di rumah Tasya. Sore harinya pada saat perayaan Dani tidak bisa datang ke acara tersebut dikarenakan harus membantu ibunya di rumah yang sedang menjemur padi. Pagi harinya Dani menghampiri Tasya dan meminta maaf karena tidak bisa hadir di acara ulang tahunnya. Namun Tasya tidak mau menerima alasan Dani, karena merasa tidak dihargai olehnya. “Tasya, maafkan aku tidak bisa datang ke acara kamu.” Namun Tasya  memalingkan muka kepada Dani dan terus masuk kedalam Kelas.
Beberapa hari Tasya tidak menyapa sepatah katapun kepada Dani. “Dan, Tasya marah dengan mu yah?” tanya Riki. “ Iya, sepertinya karena aku tidak datang ke acara ulang tahunnya.” Jawab Dani, “wah parah kamu Dan, kamu belum meminta maaf kepadanya?” timpah Riki, “sudah kok, namun Tasya masih marah denganku, kalau jika dia tetap saja begitu yasudahlah yang penting aku sudah meminta maaf kepadanya.” Balas Dani. “wah Dan jangan begitu, kalau boleh jujur Tasya itu menyukaimu, makanya dia masih marah padamu.” Sahut Riki, “ oh … terus aku harus bagiamana Rik?” tanya Dani, “ lebih baik kamu minta maaf lagi dan bilang tentang perasaan kamu padanya, kamu juga ada rasa kepadanya kan?”, tanya Riki. Setelah itu Dani pun menemui Tasya setelah pulang sekolah, dan membicarakan semua perasaan mereka. Yang pada akhirnya Dani dan Tasya pun memutusakn untuk pacaran, walau dalam hati Dani masih ragu dengan keputusannya. “ Ya Allah apakah jalan saya pilih ini benar” tanya Dani dalam hati. Yang tadinya hnay ingngin menyenagkan hati Tasya semata.
Hari hari berikutnya Dani dan Tasya sudah tidak malu lagi kalau mereeka sudah berpacaran. Mereka sering ditemui bersama di sudut-sudt sekolah. Tasya Sangat senang karena rasa yang di pendam sejak dulu sudah bisa direlisasikan. Namun ternyatra Tasya mulai memberikan rasa cemburu kepada Dani, jika melihat Dani bersama perempuan lain. Waktu itu tasya melihat Dani mengobrol dengan dengan Rani, yang notabene Saingan Tasya di dalam kelas. Dan banyak yang mengatakan jika Rani pun menyukai dani. “dan tadi kamu ngobrol sama siapa?” tanya Rina Sambil cemberut. “sama Rani, ngomongin tugas Fisika Pak Aji, emang kenapa gitu?”. Jawab Dani sambil tersenyum J. “yang bener dan, tapi kata anak-anak Rani itu menyukai kamu?” tanya Tasya lagi, “terus kenapa? Dia sama akukan cuman ngebicarain Tugas fisika saja.”, Tasya pun malah pergi tidak mau mendengarkan apa pun alas an Dari Dani.
Hari hari berikutnya Tasya masih marah kepada Dani, dia tidak mau berbicar kepada Dani. Dani pun mencoba untuk berbicara baik baik kepad Tasya, “sya…. Kamu masih marah dengan ku?” tanya dani, “tidak, aku cuma kesal saja kepada kamu solanya kamu mendekati rani.” Jawab tasya .” yasudah kita kan Suadah dewas masa kita marahan, itukan cuman masalah sepele. Maafkan aku yah” sahut dani. “iay aku bisa maafakan kamu, asalkan kamu jangan terlalu dekat dengan perempuan lain” jawab Tasya. “iaya kau akan coba melakukannya” jawab Dani ambil tersenyum. Akhirnay merekapun kembali akrabdan berssamasam lagi.
Namun semenjak kejadian itu pikiran Dani malah terfokus dengan Tasya yang melalaikan pelajaran disekolah. Saat ualangan akhir semester telah dilaluinya, hasilnya pun mengecewakan, dimana ada beberapa nilai yang tidak tuntas. Dari sana Dani mulai berpikir apa yang membuat nilainya turun. “????????????????????” setelah ia memikirkannya, diaa baru sadar bahwa akhir-akhir ini fokusnya telah terbagi dengan Tasya. Dia pun ingin menemukan solusi agar dia bisa fokus kembali belajar,  untuk itu dia menemui Guru bimbingan konseling atau sering di sebut BK. Disan dia membeberkan semua permasalahnya. Dan dia pun diberikan solusi oleh guru BK agar memutuskan hubungngannya dengan tasya. Setelah itu dia bingngung bagaimana cara untuk memberi tahu Tasya bahwa dia ingin menyudahi hubungannya. Tak lama kemudian Riki  menghampirinya. “hei dan kenapa mukamu muaram Sekali?” tanya Riki dengan tertawa kecil. “tidak aku hannya sedang bingngung dengan maslah yang aku hadapi.” Jawab Dani seperti tidak semangat. “hei….. kamu jika punya masalah bisa bai bagi dengan ku, mungkin aku bisa bantu carikan solusinya. Jika boleh tau apa masalah yang sedang kamu hadapi?”, tanya Riki sambil mendekati Dani. “ nggak ini masalah aku dengan tasya.” Jawab dani.”kalian bertengkar lagi??!!” potong riki. “bukan begitu Rik. Tadi akuan sudah ke guru BK, disana aku menceritakan tentang penurunan perstasi ku, dan aku harus mengakhiri hubungan dengan Tasya.” Jawba dani. “memangnya itu cuma solusi satu satunya?” tanya Riki kembali. “ iya soalnya aku tidak bisa membagi waktu antara Tasya dan pelajaran.” Ucap Dani, “terus kenpa kamu bingung kamu kan tinggal terus terang dengannya, gampang kan.” balsa Riki, “ gampang bagaimana, (sambil mengerutkan dahi), dia kan mudah tersinggung, bagaimana aku harus ngomongnya coba?????” sahut dani. “oh begitu yah, yasudah nanti aku bilang ke Tasya dan minta kesediannya” balas Riki. Setelah itu riki pun menemui tasya dan menceritakan semua permasalah Dani.  

Pagi harinya setelah Riki memberitahu bahwa dia telah berbicara dengan Tasya. Dani pun memberanikan diri untuk membicarakannya dengan tasya,”Sya kamu sudah tau kan permasalahannya?”tanya Dani dengan lembut.”iya tau, jika memang itu yang terbaik aku mengerti ko, aku doakan kamu juga menjadi dokter yang sukses” jawab Tasya dengan tersenyum. Setelah itu Dani pun kembali menjadi Dani si Anak desa, yang suka di sebut si dekil  kembali.

--Tamat--

0 komentar:

Post a Comment