Oleh: Rudiyansah.
Tett…tet suara bel berbunyi, yang menandakan Dani
memasuki kelas sekaligus sekolah barunya. Disini berbeda sekali dengan keadaan
di desa. Disini merupakan sekolah terbaik di kota, yang mayoritas dihuni anak
dari orang – orang kaya. Yang dianggap Dani mereka tidak mau berteman dengan
nya, yang berlatar belakang orang desa. Namun dugaan Dani salah besar, ternyata
tidak semua orang kaya itu sombong. “Hai apa kabar?, boleh kenalan?” tanya
seseorang yang tiba-tiba menghampirinya dari arah belakang. “ Alhamdulillah
baik, iya boleh aku Dani.” Jawab Dani.
“oh Dani yah, namaku Riki, salam kenal.” Balasnya. Setelah itu terjadi
percakapan antara keduanya, yang membuat keduanya akrab.
Hari-hari berikutnya, Dani mulai terbiasa dengan
kehidupan barunya di kota, walau harus pulang pergi dengan jarak yang jauh. Suatu
pagi yang hujan, ia bingung karena dia harus menempuh jarak yang cukup jauh
untuk mencapai ke jalan kota. Sedangkan ia hanya menggunakan sepedah untuk
menempuhnya. Namun karena ia telah berjanji kepada ayahnya yang telah
meningggal dunia untuk bersekolah sungguh-sungguh dan mewujudkan cita-citanya
menjadi seorang dokter, ia pun akhirnya memaksakan diri untuk berangkat. “ bu
aku berangkat dulu.” Sahut dani, “ Diluar masih hujan nak, nggak tunggu
hujannya reda dulu?” Tanya ibunya. “kalau nunggu hujan reda, nantinya telat
bu.” Jawab dani sambil memasukan seragamnya ke tas pelastik agar seragamnya
tidak basah.
Sesampainya di jalan kota, ia bergegas ke wc umum
untuk mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Dan menitipkan sepedahnya di
pedagang yang sudah ia kenal. Di sekolah dia ditertawakan oleh teman-temannya
karena menggunakan sepatu yang dekil dan basah. Namun Dani tidak
memperdulikannya, karena tujuannya ke sekolah bukan untuk bergaya dan
mendengarkan celotehan-celotehan yang tidak berguna baginya. Namun tidak semua
teman temannya mengejeknya. Hari-hari berikutnya Dani menjadi orang yang
dikenal disekolah karena di sebut si Dekil.
Hari itu adalah pelajaran Biologi dimana akan dibuat
kelompok penelitian tentang ekosistem di desa. Di sana Dani satu kelompok dengan
Riki dan Tasya. Yang akan meneliti ekosistem di desa Dani. Keesokan harinya
mereka pergi ke rumah Dani untuk mempelajari ekosistem di desa. “wah desa kamu
sejuk juga yah…” sahut Tasya, “ alhamdulillah warga di sini masih menjaga
kebersihan lingkungannya…” jawab Dani,” adeuh……………. adeuh………..” potong Riki. “wus
apa sih rik” balas Dani, dan tasya pun tersenyum malu. Setelah itu mereka melihat
ekosistem yang ada di desa Dani, pertama mereka berkeliling di daerah persawahan
yang padinya mulai merunduk dan kekuning - kuningan. Disana mereka melihat
banyak hewan – hewan yang berkerialan di area sawah itu. Tiba-tiba terlihat seekor ular yang
muncul dihadapan mereka, yang membuat semuanya terkejut. Dan Tasya pun
berteriak ketakutan. “oh jangan khawatir, kalau kita tidak mengganggunya ular
itu tidak akan menggnggangu kita.” Ucap Dani. “sebaiknya kita kembali ke rumah kamu saja Dan” sahut Riki.
Akhirnya mereka pun menghentikan penelitian dan kembali ke rumah Dani.
Sesampainya di rumah Dani, sudah tampak makanan
yang telah disiapkan oleh ibu Dani.”maaf nak Riki dan nak Tasya ibu tidak bisa
memberikan lebih” sahut ibu dani, “ nggak apa-apa bu, maaf juga kami sudah
merepotkan ibu” jawab Tasya dan Riki. “ ya tidak apa apa, silahkan makan dulu”
jawab ibu Dani. Setelah mereka makan Riki dan Tasya pun pulang. Ke esokan
harinya di sekolah mereka berkumpul kembali dan menceritakan pengalaman dan
kejadian yang mereka alami di desa Dani. Dan mereka pun tertawa karena
mengingat banyak kejadian yang menyenangkan bagi mereka. Disana mulai timbul
rasa-rasa yang aneh ketika Dani melihat Tasya, Tasya semakin perhatian dengannya.
Tet…….. tetttt….. bel pun berbunyi,
mereka pun masuk kelas, dan pada hari ini adalah waktu persentasi tentang hasil
penelitian mereka tentang ekosistem di Desa. Walau kemarin penelitiannya tidak
sukses, dan sudah bisa menanganganinya karena dia sudah tau seluk beluk
desanya. Dani pun termasuk anak yang pintar dan Pandai bicara. “wah Dan penelitian
kamu bagus juga” timpa ibu Anti guru biologi nya. “nggak ko bu saya cuma
membicarakan apa adanya” jawab Dani. “memang Dani pandai bicara ko bu” balas
Tasya yang ada di sampingnya. “ah Tasya bisa saja, kamu….” Balas Dani. Di sana
ternyata ada yang diam-diam memperhatikan Dani, namanya Rani. Yang juga memuji
Dani sesudah persentasi itu.
Di pagi hari yang cerah dimana pada hari itu
adalah hari ulang tahun Tasya yang ke 16. Dan akan di adakan acara perayaan
ulang tahun Di rumah Tasya. Sore harinya pada saat perayaan Dani tidak bisa
datang ke acara tersebut dikarenakan harus membantu ibunya di rumah yang sedang
menjemur padi. Pagi harinya Dani menghampiri Tasya dan meminta maaf karena
tidak bisa hadir di acara ulang tahunnya. Namun Tasya tidak mau menerima alasan
Dani, karena merasa tidak dihargai olehnya. “Tasya, maafkan aku tidak bisa
datang ke acara kamu.” Namun Tasya
memalingkan muka kepada Dani dan terus masuk kedalam Kelas.
Beberapa hari Tasya tidak menyapa sepatah katapun
kepada Dani. “Dan, Tasya marah dengan mu yah?” tanya Riki. “ Iya, sepertinya karena
aku tidak datang ke acara ulang tahunnya.” Jawab Dani, “wah parah kamu Dan,
kamu belum meminta maaf kepadanya?” timpah Riki, “sudah kok, namun Tasya masih
marah denganku, kalau jika dia tetap saja begitu yasudahlah yang penting aku
sudah meminta maaf kepadanya.” Balas Dani. “wah Dan jangan begitu, kalau boleh
jujur Tasya itu menyukaimu, makanya dia masih marah padamu.” Sahut Riki, “ oh …
terus aku harus bagiamana Rik?” tanya Dani, “ lebih baik kamu minta maaf lagi
dan bilang tentang perasaan kamu padanya, kamu juga ada rasa kepadanya kan?”,
tanya Riki. Setelah itu Dani pun menemui Tasya setelah pulang sekolah, dan
membicarakan semua perasaan mereka. Yang pada akhirnya Dani dan Tasya pun memutusakn
untuk pacaran, walau dalam hati Dani masih ragu dengan keputusannya. “ Ya Allah
apakah jalan saya pilih ini benar” tanya Dani dalam hati. Yang tadinya hnay
ingngin menyenagkan hati Tasya semata.
Hari hari berikutnya Dani dan Tasya sudah tidak
malu lagi kalau mereeka sudah berpacaran. Mereka sering ditemui bersama di
sudut-sudt sekolah. Tasya Sangat senang karena rasa yang di pendam sejak dulu
sudah bisa direlisasikan. Namun ternyatra Tasya mulai memberikan rasa cemburu
kepada Dani, jika melihat Dani bersama perempuan lain. Waktu itu tasya melihat
Dani mengobrol dengan dengan Rani, yang notabene Saingan Tasya di dalam kelas.
Dan banyak yang mengatakan jika Rani pun menyukai dani. “dan tadi kamu ngobrol
sama siapa?” tanya Rina Sambil cemberut. “sama Rani, ngomongin tugas Fisika Pak
Aji, emang kenapa gitu?”. Jawab Dani sambil tersenyum J. “yang
bener dan, tapi kata anak-anak Rani itu menyukai kamu?” tanya Tasya lagi,
“terus kenapa? Dia sama akukan cuman ngebicarain Tugas fisika saja.”, Tasya pun
malah pergi tidak mau mendengarkan apa pun alas an Dari Dani.
Hari hari berikutnya Tasya masih marah kepada
Dani, dia tidak mau berbicar kepada Dani. Dani pun mencoba untuk berbicara baik
baik kepad Tasya, “sya…. Kamu masih marah dengan ku?” tanya dani, “tidak, aku
cuma kesal saja kepada kamu solanya kamu mendekati rani.” Jawab tasya .”
yasudah kita kan Suadah dewas masa kita marahan, itukan cuman masalah sepele.
Maafkan aku yah” sahut dani. “iay aku bisa maafakan kamu, asalkan kamu jangan
terlalu dekat dengan perempuan lain” jawab Tasya. “iaya kau akan coba
melakukannya” jawab Dani ambil tersenyum. Akhirnay merekapun kembali akrabdan
berssamasam lagi.
Namun semenjak kejadian itu pikiran Dani malah
terfokus dengan Tasya yang melalaikan pelajaran disekolah. Saat ualangan akhir
semester telah dilaluinya, hasilnya pun mengecewakan, dimana ada beberapa nilai
yang tidak tuntas. Dari sana Dani mulai berpikir apa yang membuat nilainya
turun. “????????????????????” setelah ia memikirkannya, diaa baru sadar bahwa
akhir-akhir ini fokusnya telah terbagi dengan Tasya. Dia pun ingin menemukan
solusi agar dia bisa fokus kembali belajar,
untuk itu dia menemui Guru bimbingan konseling atau sering di sebut BK.
Disan dia membeberkan semua permasalahnya. Dan dia pun diberikan solusi oleh
guru BK agar memutuskan hubungngannya dengan tasya. Setelah itu dia bingngung
bagaimana cara untuk memberi tahu Tasya bahwa dia ingin menyudahi hubungannya.
Tak lama kemudian Riki menghampirinya.
“hei dan kenapa mukamu muaram Sekali?” tanya Riki dengan tertawa kecil. “tidak
aku hannya sedang bingngung dengan maslah yang aku hadapi.” Jawab Dani seperti
tidak semangat. “hei….. kamu jika punya masalah bisa bai bagi dengan ku,
mungkin aku bisa bantu carikan solusinya. Jika boleh tau apa masalah yang sedang
kamu hadapi?”, tanya Riki sambil mendekati Dani. “ nggak ini masalah aku dengan
tasya.” Jawab dani.”kalian bertengkar lagi??!!” potong riki. “bukan begitu Rik.
Tadi akuan sudah ke guru BK, disana aku menceritakan tentang penurunan perstasi
ku, dan aku harus mengakhiri hubungan dengan Tasya.” Jawba dani. “memangnya itu
cuma solusi satu satunya?” tanya Riki kembali. “ iya soalnya aku tidak bisa
membagi waktu antara Tasya dan pelajaran.” Ucap Dani, “terus kenpa kamu bingung
kamu kan tinggal terus terang dengannya, gampang kan.” balsa Riki, “ gampang
bagaimana, (sambil mengerutkan dahi), dia kan mudah tersinggung, bagaimana aku
harus ngomongnya coba?????” sahut dani. “oh begitu yah, yasudah nanti aku
bilang ke Tasya dan minta kesediannya” balas Riki. Setelah itu riki pun menemui
tasya dan menceritakan semua permasalah Dani.
Pagi harinya setelah Riki memberitahu bahwa dia
telah berbicara dengan Tasya. Dani pun memberanikan diri untuk membicarakannya
dengan tasya,”Sya kamu sudah tau kan permasalahannya?”tanya Dani dengan
lembut.”iya tau, jika memang itu yang terbaik aku mengerti ko, aku doakan kamu
juga menjadi dokter yang sukses” jawab Tasya dengan tersenyum. Setelah itu
Dani pun kembali menjadi Dani si Anak desa, yang suka di sebut si dekil kembali.
--Tamat--
0 komentar:
Post a Comment